April 29, 2014

Lelaki : Perjalanan 1 : Hutan Pinus Dan Elang Jawa


“ Jangan lari di jembatan gantung itu! Bahaya!”

Suara itu berat berteriak dibelakang. Putus-putus seperti berlari juga. Jalanan batu yang dinaungi pohon-pohon bambu lebat, membuat malam ini terasa begitu mencekam. Redup rembulan tak mampu menembus kungkungan rapat daun-daunnya yang bertumpuk rapat. Aku menghentikan langkah ku tepat di ujung jembatan gantung itu. Jembatan yang memanjang diatas sebuah sungai berair deras, meski tidak kelihatan suaranya terdengar jelas, serta bebatuan yang samar kelihatan karena cahaya bulan. Menunggu suara yang dari jauh menghentikan langkahku. Dalam sepi begini, bisa saja itu rampok yang memanggil. Aku berjaga-jaga dengan menggenggam belati yang dari tadi bersarang di pinggang. Pisau serbaguna yang biasa kami pakai jika berkemah.
photo special
Pelan-pelan, sebuah cahaya datang dengan cepat. Membelok tepat dibawah jembatan. Sesosok tubuh tinggi besar dengan head lamp yang mengorot kearahku. Hingga aku tidak bisa mengenali raut mukanya. Aku menutupi mata dari silau sorot head lamp dengan satu tangan, sambil beringsut kebelakang. Dia mengerti dan mematikan headlampnya. Namun, suasana menjadi semakin gelap. Aku menyalakan senter genggam kecil yang aku bawa, dan mengarahkannya ke bawah.

“ Mas, jangan lari di jembatan ini. Bahaya!” katanya mengulangi.
Aku tertawa. “ Yang mao lari siapa, Kang?” aku menjawab sekenanya,” badan saya sudah letih, dari tadi jalan. Menurut penjaga dibawah sana, setelah jembatan gantung ini, saya akan bisa mendirikan tenda untuk  bermalam. Betul begitu?” aku balik bertanya.
“ Ah, maafkan. Soalnya, tadi saya dibawah, melihat ada dua atau tiga orang berlari menyebrang hampir bersamaan. Jembatan ini bisa putus kapan saja jika tidak hati-hati,” dia menjelaskan, “ Itu teman nya mas?”
“ Bukan. Saya sendirian,” jawabku. Meski takut kalau tiba-tiba ia mendapat kesempatan karena kesendirianku, kemudian merampok, aku siap dengan belati yang dari tadi aku pegang gagangnya, “ betul sudah dekat, Kang?”
 “ Iyah. Setelah jembatan, berbelok ke kiri, mas akan masuk ke hutan pinus yang lumayan lebat. Disana biasanya orang-orang berkemah. Sudah tidak jauh lagi,” tambahnya.
“ Berapa lama lagi, Kang?”
“ Mungkin tiga puluh menit. Bisa lebih cepat,” dia menjawab singkat. “ Hati-hati jalannya, agak licin,”

Setelah mengucapkan itu, dia pamit ke arah beralawanan. Menyalakan head lamp nya kembali dan berjalan turun. Tidak membawa beban apapun. Mungkin orang sini, batinku.

Suasana menjadi seperti tadi, senyap. Dari jauh, aku mendengar suara binatang-binatang malam membentuk orkestera alam yang luar biasa merdu. Bulan malu-malu muncul. Dan bintang-bintang bertebaran tak terhingga. Aku melangkah pelan, membelah jembatan gantung yang mungkin sudah sangat tua. Derak kayu yang beradu dengan sepatuku, seperti bisa aku dengar dan masuk ke gendang telinga tanpa permisi. Tubuhku, berayun-ayun mengikuti gerak jembatan tua ini. Dalam gelap, mustahil bisa melihat berapa tinggi aku berdiri sekarang. Dan ketika kakiku membentur sebuah batu, aku menjatuhkannya ke bawah. Dan menunggu suara batu ini jatuh mementur apapun dibawah sana. Gagal dipercobaan pertama, karena rasanya batu itu tidak pernah jatuh ke dasar. Aku mengambil head lamp ku dan mengarahkannya ke bawah. Dengan berpegang pada satu sisi jembatan, namun ternyata ia menjadi miring. Aku jongkok. Dan mengambil batu yang lain. Dan melaukan hal yang sama, sambil melihat waktu di jam tanganku. Kali ini bisa aku dengar batu itu, membentur batu yang ada dibawahnya. Empat detik. Jika satu detik itu sempuluh meter, ada empat puluh meter ke bawah. Aku bergidik. Kemudian mempercepat langkah. Sudah hampir tengah malam.

Benar saja, hutan pinus ini, hanya tiga puluh menit jaraknya. Begitu memasuki hutan ini, bau khas daunan pinus yang segar menyapa hidungku. Ada dua tenda di depanku. Aku tak mau mendirikan tenda sejauh itu. Kemudian memutuskan untuk mendirikannya dibawah sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi dan tua. Karena cuaca cerah, rasanya disini aman, batinku. Aku membelakangi jalan setapak. Dalam empat puluh menit, semua beres aku kerjakan sendiri. Udara memang tidak terlalu dingin, namun cukup membuat aku tergoda untuk menikmati kopi panas dan makan malam ku yang sudah sangat terlambat.

Dalam kesendirian begini, aku sering kali merasa bahwa beginilah aku seharusnya. Terlepas dari segala urusan kota yang tidak ada habis-habisnya. Kopi dan semangkuk sup jagung instan sudah tersaji. Lambat-lambat aku makan dari muka tenda. Membiarkan mata menatap kunang-kunang yang bebas gemerlapan di tepi jurang yang tak begitu jauh dari tendaku. Hidup, membawaku kepada sebuah perjalanan panjang menuju pengembaraan batin yang sangat tidak terduga. Merasakan puncak-puncak gunung yang tinggi dan membekukan, hingga ke bibir-bibir pantai yang panas membakar kulit. Aku selalu bersyukur, pernah diberi kesempatan menyaksikan matahari terbit di Toraja. Atau menyaksikan pasir-pasir putih mengotori kaki dan celana di Lombok. Menyesatkan diri di belantara ujung Jawa Timur berhari-hari, dan menyisakan bekas luka duri-duri di kulit  dan tidak bisa hilang sampai sekarang.
@boimakar

Suara gemerisik dibelakang tenda, mengagetkan ku. “ Siapa?” teriakku. Aku mencari pisau yang aku simpan entah dimana. Setenang mungkin. Belum ada jawaban dari belakang. “ Ada orang dibelakang?” masih tak ada suara sahutan. Hanya gemerisik daunan kering masih terdengar. Pasti binatang, pikirku, tikus atau babi hutan. Namun, kalau itu orang jahat, pastilah aku akan celaka. Dihutan sepi begini, teriakan saja, pasti belum cukup untuk menarik perhatian orang-orang. Dua tenda dikejauhan, berwarna kuning, terang dari bagian dalam. Penghuninya bisa jadi sudah tidur. Dari jarak ini, bila ada yang jahat, pastilah memakan waktu tidak kurang dari lima menit, untuk menolong. Aku berjaga-jaga. Suara gemerisik itu menjauh. Lega juga rasanya. Pasti itu babi hutan, batinku.

Keheningan kembali menyergap. Kunang-kunang beterbangan menembus gelap. Menari-nari dalam lincah disela dedaunan yang ikut meremang. Lama betul aku tidak menyaksikan keadaan begini. Rasanya, mata tidak mau terpejam.

Dan bayangan tentang kunang-kunang itu menyeretku pada masa beberapa tahun yang lalu. Ah, mengapa selalu klise bengini, batinku. Pada kesendirian, jutaan bayangan masa lalu berseliweran dalam benak tak putus-putus. Klise, karena dari banyak film, atau buku, selalu menyajikan hal yang serupa. Apa semua orang begini? Tiba-tiba, masa lalu seperti hujan yang datang tidak kompromi. Mengguyur deras lamunan, beserta dengan embel-embel petir dan kilatnya. Ini apa? Mengapa segundah itu perasaan memenjarakan ku.
“ Maaf, apa boleh saya ikut ngobrol disini?”

Suara itu, memecah digelapnya malam. Saya terperanjat. - Bersambung -(bmkr-280414)

No comments:

Post a Comment