January 17, 2014

Lelaki : Pagi dan Kota Tua

Saya mengandeng tangannya. Menyeretnya pelan diantara seliweran kendaraan yang bertabrakan arah dengan kami. Meski masih sepi dalam pagi yang belum lagi membiarkan matahari membakar penuh, namun ramainya kota ini seperti juga Jakarta, yang tidak pernah tidur. Kios-kios seberang jalan mulai membuka dagangan. Abang-abang becak mulai berkemas menunggu rejeki pada sebuah pangkalan tidak resmi diujung jalan yang berbatasan dengan pintu lintasan kereta api. Beberapa pejalan kaki, dan pesepeda, ikut membuat suasana seperti mati dari kemapanan yang selalu berdengung dikota besar. Disudut yang lain, sebuah warung kopi pinggir jalan, sudah menyuguhkan gelas-gelas bening berisi cairan kopi hitam yang mengepul tipis. Yang kemudian dihirup pelan beberapa lelaki berkulit terbakar matahari, dengan nikmatnya. Menyulut rokok kretek yang mengepulkan asap putih bersih. Ini pagi hari yang menyenangkan, saya membatin.
“ Kemana kita?” katanya, ditengah perjalanan kami, yang belum lagi mencapai potongan jalan. Saya menoleh kearahnya. Dia meminta jawaban.

“ Entahlah. Tapi, rasanya bangunan disini semuanya tua. Jadi mungkin ini kota yang dimaksud itu. Bolehlah nanti kita tanya sama orang dulu. Sebelum kita muter-muter nggak karuan,” jawabku sekenanya. Melepaskan pandang keseluruh penjuru ruang yang bisa disapu.

Sebuah bangunan tua, berdiri kokoh diseberang kami. Sebuah gudang yang sudah tidak terpakai. Namun, disebelahnya, pada ujung jalan, terdapar lorong yang jika ditengok kedalam, ada beberapa motor terparkir. Ada jemuran basah yang masih meneteskan air. Jadi, rasanya ada penghuninya. Kami tidak masuk kedalam, hanya melihat dari luar. Kemudian berjalan pelan menyusuri sisi bangunan tua itu. Berkali-kali saya berdecak kagum. Sudah berapa ratus tahun umur bangunan ini, namun masih saja dia berdiri kokoh.

“ Kamu tahu, “ saya membuka percakapan,” kalau seluruh kota tua yang ada di Indonesia, bahkan seluruh belahan dunia itu, ada di daerah yang dekat dengan laut?”

“ Kenapa begitu? Pasti tidak semuanya,” dia protes.

“ Mungkin tidak. Tapi coba tengok, Jakarta dengan kota tuanya didaerah yang dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa. Makassar dengan Pelabuhan Makassar, Semarang dengan Tanjung Emas? Rasanya cukup masuk akal, bukan. Itu baru di Indonesia.  Malaka di Malaysia, juga ada didaerah yang dekat dengan pelabuhan Malaka,” saya berteori.

Dia mendengarkan dan mengamati. Untuk urusan sejarah, saya memang lebih banyak literatur, dan dia lebih jago dalam hitung-hitungan. Mungkin karena saya yang biasanya mbasak-blusuk daerah-daerah pada masa muda dulu, bukan hanya untuk senang-senang, tapi juga untuk belajar kearifan lokal dan sejarahnya.

“ Iya, benar juga sih,” dia menyerah. Mengapit lengan saya kemudian diam tidak melanjutkan pembicaraan. Kikuk juga jadinya. Saya tadinya berfikir ini akan panjang, namun dia tidak mengadakan perlawanan apapun. Jadi geli sendiri.

“ Kita kesana,” dia menunjuk sebuah bangunan merah yang masih berdiri kokoh. Didepannya, masih ada tulisan dengan huruf kapital dan ejaan lama. PERTJETAKAN. Beberapa bagian bangunan itu sudah rusak. Bata merah yang menyusun tembok, mulai terkelupas aci nya. Dan pintu yang dibuat besar dari kayu, dipalang dengan sebuah bambu yang berfungsi ganda sebagai jemuran. Saya masih merasakan betapa gedung itu sangat perkasa pada eranya dulu.

Berderet-deret, bangunan-bangunan tua itu menjadi saksi perubahan jaman. Jalanan yang ada diantaranya, sudah mulai diperbaiki. Tumpukan konblok berwarna merah, berserak dimana-mana.

“ Coba bayangkan, betapa dulu disini, banyak noni-noni dari eropa, berjalan kaki. Pakai gaun putih rumit, dengan renda-renda, sarung tangan putih sesiku, membawa payung putih berenda juga. Lalu lalang, hanya sekedar mengagumi betapa peradaban yang mereka bawa, membuat mereka merasa ditanahnya sendiri, yang jaraknya ribuan kilometer dari sini. Tersenyum bangga dan tertawa terbahak, “ dia mulai mengandai-andai, “ dan kita sekarang, berduaan jalan begini, persis seperti mereka jaman itu,” dia tertawa kecil.

“ Tapi, pada masa itu, sementara mereka hidup dalam kemewahan roti-roti dan anggur yang berharga ratusan gulden, penduduk kita ditindas, bukan?” saya menimpali.

“ Betul juga,” katanya,” yang membangun ini semua, pasti bukan orang-orang eropa itu. Ya, maksud saya, yang menjadi tukangnya, pastilah orang-orang lokal. Mereka tidak mungkin membawa bangsanya sendiri untuk menjadi pekerja kasar ditanah orang lain, bukan?”lanjutnya.
Ada nada getir dalam ucapannya yang terakhir. Saya mengangguk. Memegang ujung jarinya yang terasa kecil dan lembut dalam genggaman tanganku.

“ Bisa kita bayangkan. Betapa mereka diupah sangat kecil untuk membuat bangunan sebegini hebat. Gedung-gedung, yang pada masa itu, tidak pernah disaksikan oleh orang pribumi. Bahkan, mungkin dalam pikiran mereka pun belum. Peradaban pada masa itu di Eropa, mestilah jauh sekali dengan disini. Sementara kemewahan pakaian mereka yang serba putih, beradu dengan kepolosan batik dan lurik. Meski itu sangat mahal sekarang harganya, namun pada masa itu, pastilah tidak begitu,” dia terus mencercau. Saya membiarkan dia dengan sejuta pendapat yang tetiba muncul entah dari mana. Apa karena pengaruh suasana, sehingga semua bisa mengalir dengan begitu lincah dari mulutnya.
Kemudian, dia berhenti. Pada sebuah bangunan lain yang nampaknya seperti pabrik. Beberapa cerobong asap muncul dari atas atapnya yang tinggi-tinggi.

“ Sayang yah, bangunan seperti ini harus di coret-coret dengan vandalisme seperti itu,” katanya. Menunjuk sebuah lukisan protes politik yang entah ditujukan untuk siapa. Tapi pastila untuk pemerintah. Namun, tempat yang salah, malah membuat mural itu menjadi tidak terbaca, dan merusak keaslian kota ini.

“ Hei! Itu gerejanya..!” saya bersorak. Dari awal, saya memang ingin sekali melihat gereja itu. Gereja yang sudah berumur 200 tahun lebih. Dan sudah diperbaiki beberapa kali, tapi tetap seperti pada masa dia berdiri. Setidaknya, dari photo-photo yang sudah dipublikasi dan sudah saya lihat. Dan bangunan putih itu, masih putih seperti waktu pertama kali berdiri. Saya berandai-andai. Berbeda sekali dengan banyak bangunan lain. Dibiarkan rusak dan runtuh dibeberapa tempat.

Ah, saya ingin benar masuk kesana. Tapi tidak bisa pastinya. Jadi cukuplah melihat dari balik pagarnya yang rendah saja.

“ Apakah hidup juga begitu?” katanya, ketika kami duduk menikmati semilir angin di bawah rindang pohon taman yang tidak terlalu ramai, meski ini hari sabtu.

“ Apa maksudnya?” saya bertanya.

“ Iyah. Apakah hidup juga akan begitu. Kelihatan bagus pada awal pembangunannya, kemudian didiamkan dan hancur dengan sendirinya ketika sudah tua. Dibiarkan dimakan cuaca, dilihat sebentar, dikagumi, kemudian ditinggalkan, tanpa pernah dikenang?” lanjutnya.

Dari mana pula dia punya pengandaian seperti itu, bisik batin saya. Apakah ada arwah noni-noni Eropa yang masuk kebadannya? Saya menggaruk kepala. “ Kamu kesurupan arwah noni Belanda, yah?” saya menggodanya.

Dia mencubit pinggang saya, dan memaksa saya memekik kaget. Beberapa orang yang ada ditaman memperhatikan kami. Dia tertawa kecil. “ Ayolah, beri pendapatmu. Aku yakin, kamu punya teori. Kamu kan orangnya sok filosofis dan sok puitis. Untuk pertanyaan seperti itu, pasti kamu punya jawaban yang banyak,” dia berkeras.

“ Saya tidak punya jawabnya. Saya tidak mengerti,” elakku.

Dia menoleh. Matanya melotot. Mengangkat jari-jarinya kedepan mata saya, dan mengancam, “ mau ini lagi?” katanya.

“ Ampun, saya nyerah!” kami saling tertawa. Saya paham betul maksudnya. Dia sudah bersiap mencubit lagi, kalau saya belum menjawab pertanyaanya seputar hidup itu. “ Apa tadi pertanyaanya?”

“ Apakah hidup itu, seperti bangunan-bangunan tua itu. Hanya indah pada mulanya, kemudian dibiarkan hancur sendiri,” dia mengulang pertanyaanya dengan kata-kata yang lebih singkat. Saya merenung sebentar.

“ Rasanya begitu,” jawabku singkat.

“ Begitu?”

“ Iya! Begitu!”

“ Ohh...”

Saya tertawa. Dia tahu sedang dipermainkan. Jadi tak ayal lagi, beberapa cubitan mendarat dipinggang saya, yang mati-matian saya tangkis dengan teriakan ampun-ampun yang sepertinya tidak digubris. Serangannya, seperti rentetan bedil penjajah yang dilawan bambu runcing kaum pribumi.

“ Bisa jadi begitu, “ saua menyerah. “ tapi rasanya tidak bisa semuanya benar. Hidup itu hidup. Bukan bangunan. Hidup merawat dan mempertahankan kehidupannya sendiri. Bangunan, bergantung kepada hal lain untuk bisa tetap dikatakan “hidup”. Cukup masuk akal kalau ternyata hidup bisa bertahan dan tidak lapuk oleh usia dan cuaca. Hidup tidak bertuan kepada siapapun di dirawat oleh dirinya sendiri, sedangkan gedung-gedung itu. Dia dirawat oleh pembantu, bukan majikannya. Ketika majikannya mati, maka gedung itu, mati. Tidak dengan hidup, yang akan tetap hidup karena tidak menjadi milik sesiapapun didunia. Dia hanya dimiliki oleh yang gaib. Keyakinnnya. Entah itu bernama agama atau kepercayaan apapun namanya,” saya mulai berkhotbah. Dia nyengir.

“ Aku ga paham. Ayo kita makan eskrim saja,” katanya kemudian menarik tangan saya berdiri dan meninggalkan taman.





Saya bengong. Dan nyengir juga. ....(bmkr17/1/14) 

No comments:

Post a Comment