January 21, 2014

Lelaki : Dalam Kabut - Bagian 1



Hujan turun deras. Menyiram bumi seperti miliyaran air mandi dari shower yang ditumpahkan dari langit. Beberapa membentur tajuk-tajuk pohon yang tinggi menjulang diatas kami. Air hujan yang kecil menerobos daun-daun hijau yang rindang, untuk jatuh ketanah. Menyiram kami yang masih berjalan pelan menaiki  jalan setapak berbatu yang sebagian tergenang air. Meski jas hujan yang kami pakai cukup baik, namun kekuatan dan keluesan air hujan masih tetap menerobos menembus badan kami yang mulai letih. Bercampur keringat yang sepertinya enggan keluar dari pori-pori, terhalang dingin udara yang menyelubung badan.

photo Koleksi Pribadi
“ Capek?!” dia berhenti dan menoleh kebelakang, ke arah saya yang berjalan lebih lambat.

“ Itu pertanyaan atau pernyataan?” saya ikut berhenti. Beberapa langkah dibelakangnya. Memandang badan nya yang kelihatan lebih jangkung dari sudut ini.

“ Itu pertanyaan, bodoh!” dia tekekeh, “ gua sih gak capek. Lari juga masih sanggup!” namun tak ayal dia mencari tempat yang dirasa nyaman untuk duduk. Melepaskan keril berukuran 70 liter yang dibungkus cover bag berwarna biru tua, bertuliskan sebuah merk terkenal luar negeri. “ kita ngopi dulu enak, nih..” lanjutnya yang tanpa meminta persetujuan, kemudian mengeluarkan kompor kecil dengan bahan bakar spirtus dan kopi instan yang kami bawa sebagai bekal.

Saya memandang sekeliling. Menyaksikan daun-daun yang menjadi basah oleh guyuran hujan yang sudah menjadi rintik, tidak selebat beberapa menit sebelumnya.

Perjalanan hari ini, hanya kami berdua saja. Membelah belantara yang begitu hening. Tidak banyak orang yang melakukan penjelajahan berdua saja, karena alasan keamanan. Bagi kami, semakin sedikit yang berjalan bersama kami, rasanya semakin baik. Tidak harus ribed mencocokkan segala macam tetek bengek yang remeh. Saya mengenalnya sejak masa sekolah, ketika dia pindah dari kampung halamannya di tanah Batak ke Jawa. 

“ Mie rebus sekalian. Telor nya ada di saya,” seketika saya ikut menambah pekerjaan buat dia.

“ Bangke! Bilang aja lapar!” katanya, memaki, namun masih terus bekerja. Saya terkekeh bahagia.

Hujan, sudah benar-benar berhenti ketika kopi dalam gelas melamin kami sudah hampir menyisakan ampas saja. Namun yang datang kemudian adalah kabut tebal yang membungkus seluruh pepohonan. Badan kami berdua seperti semut dalam genangan buih sabun ditengah danau. Pohon-pohon membeku. Deru angin berhenti. Alam seperti tidur tak terdengar suara apapun. Seketika hutan menjadi sangat sunyi.

Sambil mengekan jaket merahnya dia menyuruh saya bergegas. “ posnya sudah tidak jauh lagi dari sini. Satu jam lagi, kira-kira. Semoga kita masih bisa sampe sono sebelum gelap. Jam berapa sekarang?” tanyanya tanpa menoleh.

“ Jam tiga lebih lima belas menit. Kalau satu jam lagi, rasanya enggak sampe malem dong sampe sana,” saya menimpali.

“ Jangan sok tahu! Kita dialam liar. Waktu kadan


g-kadang bukan satu-satunya patokan perjalanan. Ada banyak hal tidak terduga yang akan terjadi depan sana dan tidak kita ketahui,” jawabnya dengan nada datar.

“ Lho, kamu yang bilang tadi kan, Cuma satu jam?” saya membantah.

“ Itu teorinya. Dilapangan, semua bisa saja jauh dari perkiraan. Disini, alam yang berkuasa. Kita tidak bisa mengatur pergerakan matahari. Tidak bisa memerintahkan kabut untuk pergi dari mengepung dan menggelapkan belantara. Jadi, tidak ada istilah bermain-main dengan itu. Penjelajah yang paling jago sekalipun, hanya bisa merencakan, tapi pada kenyataannya mereka menyerahkan segalanya kepada alam. Kepada kuasa yang menciptakan alam, “ lanjutnya.

“ Begitu, yah?” saya bengong.

“ Iya! Begitu!” katanya, ketus. “ Sebagai penjelajah alam, kita sudah seharusnya merencanakan segala gal dengan sangat teliti. Rencana perjalanan, sudah past mutlak kita punya. Dimana kita akan bermalam, berapa lama kita akan berjalan, dan bagaimana medan yang akan kita tempuh. Logistik harus sudah diprediksi dengan teliti juga. Jangan ala kadarnya. Sudah bukan jamannya lagi kita menjadi penjelajah yang hanya bergantung kepada alam. Kita sudah diberi kemudahan untuk mendapatkan makanan dari sebelum kita berangkat. Pakai saja fasilitas itu. Jangan mentang-mentang mengaku pencinta alam, kemudian kita menjadi lalai untuk menyiapkan itu semua. Jangan mentang-mentang karena perjalanan hanya dua hari, kemudian menyiapkan makanan seadanya. Itu jelas salah,” imbuhnya.

Saya mengangguk. Dia memang selalu punya jawaban dari setiap pertanyaan saya tentang petualangan. Pengalamannya jauh melebihi saya kemana-mana. Umurnya yang muda, tidak membuat dia miskin pengetahuan. Saya ingat, ketika dia mati-matian menghubungi kawan-kawannya para relawan gunung di Jawa Tengah, ketika kawan-kawan nya yang naik, hilang dan belum diketemukan. Bukan hilang dalam hal sebenarnya, hanya karena belum turun pada hari seharusnya mereka sudah berada dibawah. Meleset dari jadwal yang sudah di tetapkan.

“ Kenapa diam?” tanyanya, melihat saya yang masih terbengong mengingat kejadian-kejadian yang dia ceritakan beberapa waktu yang lalu.

“ Eh.. nggak kenapa-napa. Hanya lagi berfikir,” jawab saya.

“ Jangan kebanyakan mikir. Ayo bergegas. Hari nggak bisa nunggu!” dia bergerak cepat. Memindahkan keril beratnya kepunggung, kemudian mengencangkan ikatan pada pinggang.

Saya menyusul dibelakangnya. Beberapa meter mengikuti langkahnya yang pelan dan pasti. Beberpa kali, saya berhenti. Mengambil nafas dan menyeka keringat yang memaksa keluar dalam dinginnya udara dan kabut yang masih memutih, mengisi sela-sela pohonan. Seperti kapas halus yang dijejalkan pada batang-batangnya yang menjulang menembus langit.

“ Ceritakan kepada saya, tentang manajemen perjalanan, “ saya membuka obrolan, ketika sepi benar-benar menyelimuti. Membisukan kami yang berjalan beriringan pada tanah basah dan langit yang kembali mendung.

“ Apanya?” dia balik bertanya.

“ Ya itu, manajemen perjalanan. Seperti yang tadi kau singgung-singgung terus. Apa itu manajemen perjalanan? Kenapa jadi penting buat kita para pecinta alam?”

Dia terbahak. Saya bingung. Kenapa manusia robot ini malah tertawa. “ Pecinta alam? Kamu itu pencinta alam?” tanyanya.

“ Kamu juga, kan?” saya berkeras.

“ Gue?! Enggak! Mana pernah gue bilang kalo gue pecinta alam?” jawabnya.

“ Ya,.. apalah itu namanya!” saya menyerah. Kalau sudah begini, mustahil untuk bisa menang melawan dia.
Dan dia terkekeh. Berhenti beberapa langkah didepan saya. Menarik nafas panjang. Kemudian mengeluarkan rokoknya, dan menyulutnya. Menghisapnya pelan, dan menghembuskan asapnya, yang sontak berbaur dengan putihnya kabut. Hilang dalam kabut yang sama putihnya. Hanya bau tembakau yang masih lekat dihidung. Saya mengikuti, membakar sebatang dan sama menghempaskan asapnya.

“ Benar? Pengen tau?”

Saya mengangguk. Menunggu dia membuka mulut. (Bersambung )(bmkr/210114)

2 comments: