November 22, 2013

Lelaki : Edelweis Kering di Lembah Abadi – Bagian 2


“ Kamu percaya kalau edelweis itu bunga abadi?”
Dia merebahkan badannya terlentang, diatas rumputan lembah yang semakin terik. Menarik kaca mata hitam yang dari tadi hanya nongkrong  dikepalanya, untuk menutupi matanya yang selalu lincah dari paparan sinar matahari. Saya serta merta membaringkan tubuh juga. Menyandarkan kepala pada ransel yang saya bawa dari bawah. Dia menoleh. Melemparkan senyumannya, dan bertanya lagi, “ percaya?” butuh penjelasan.
@boimakar


Saya menggeleng. Mengerjapkan mata yang silau karena matahari. Namun, diatas saya, agak ke kiri sedikit, beberapa tangkai bunga edelweis terlihat mengering. Dari sudut ini, dengan berlatar langit biru tanpa batas, rasanya luar biasa indah. Meski sudah kering, namun tetap mempesona.

“ Pertanyaan saya saja, masih belum kau jawab. Sudah nanya yang baru lagi,” saya mengalihkan perhatian dia ke topik semula.
“ Eh? Pertanyaan yang mana? Saya tidak ingat..” dia seolah acuh. Tidak peduli.

Sambil menendang ujung sepatunya yang dia tumpuk, “ Ahh, dasar licik. Itu, yang kau bilang lembah ini adalah tempat suci. Kenapa?”

Dia kembali tertawa. Tubuh terlentangnya berguncang-guncang. Rumput-rumput kering yang ada dibawahnya, jadi ikutan bergoyang juga. Dia memiringkan badannya, menyanggah kepalanya dengan satu lengan, kemudian menaikkan kacamatanya ke kening. “ beneran, pengen tau? “ tanyanya, seolah memastikan.

Saya mengangguk. Pasrah menantikan jawaban sekonyol apapun yang akan terlontar dari mulutnya yang jahil.

“ Sebenernya, bukan karena edelweis dan birunya langit diatas sana. Bukan pula karena air sungai kecil ditengah sana itu. Yang sekarang sudah hampir kering karena musim hujan yang tidak pernah datang. Hujan sepertinya malas turun disini. Dia membiarkan tempat ini kering seperti ini. Namun, masih tetap indah bukan? “ katanya. Kemudian duduk memeluk lututnya. Mengambil botol minum teh panas, dan menenggaknya perlahan. Gerakannya, mendadak santun. Tidak seperti biasanya. Saya mengikuti.

“ Dia menjadi suci,” lanjutnya, “ setidaknya dalam pikiranku!  Entah sudah berapa kali aku kesini. Tapi rasanya tidak pernah sekalipun aku kesini. Aku seperti masuk ke suatu tempat yang baru aku datangi. Aku hafal betul kelok-kelok menuju kesini. Hafal berapa meter harus naik, kemudian turun ke lembah ini, hafal berapa banyak pohonan yang aku lewati. Namun, ketika kaki menginjak rumput mati diujung sana itu, “ dia menunjuk pintu masuk, batas hutan dan lembah ini, “ rasanya seperti aku tidak pernah kesini. Rasanya aku menjadi orang baru lagi. Kamu pernah kan, merasa seperti itu? Pernah kan?”

“ Aku tidak tahu. Belum pernah merasa seperti itu. Atau belum menyadari itu, tepatnya, mungkin,” saya menjawab asal saja.

“ Yah, masing-masing orang memang berbeda, dalam menerima segala sesuatu. Menurutku, tidak ada kaitannya antara seorang penting dimasa lalu, seorang terkenal, sering menyepi kesini. Kemudian orang-orang jadi latah ingin kesini. Bukankah ada tempat-tempat lain yang dulu juga dijadikan orang untuk tempat dia tirakat. Madakaripura yang konon tempat Gajah Mada semedi. Prabu Siliwangi yang katanya pergi bertapa ke gunung-gunung di Jawa Barat. Entahlah. Bukannya begitu? “ lanjutnya.

Saya diam saja. Tidak berusaha menjelaskan apapun. Hembusan angin dingin menampar pipi saya dengan kencang. Menerbangkan udara dingin yang seakan berputar-putar hanya disekitar kami. Dia mendekapkan tangannya memeluk lutut.

“ Kamu tahu, “ katanya pelan sesaat kemudian, “ seorang kawanku, pernah mati disini. Dilembah ini,” nada ucapnya berubah. Dia yang selama ini periang, saya lihat begitu rapuh. Saya menoleh tidak percaya. Memegang bahunya pelan, hingga membuat dia juga menoleh. Sekilas kami beradu pandang. Ada air mata membayang tidak turun ke pipi. Namun sejurus kemudian, dia kembali tersenyum.

“ Ah, sudah-sudah. Kita kesini kan, mau menikmati udara dingin. Hutan yang asri. Langit yang biru. Dan rumputan padang yang harum. Kenapa juga aku harus menceritakan yang sedih-sedih. Ya kan,” katanya mencairkan suasana.  “ Eh, kamu sudah pernah kesini sebelumnya?” tanyanya kemudian. Saya melihat getir dari nada bicaranya. Sesak yang terus menerus di benamkan, tanpa bisa keluar dengan bebas. Dan ketika itu hampir menyembul ke permukaan, dia harus kembali ditenggelamkan. Mungkin, dia memang ingin bercerita tentang kawannya yang mati itu, pikir saya. Tapi, bagaimana pula saya bisa bertanya tanpa harus merendahkan dan mengusik luka lamanya?

“ Sudah. Saya pernah kesini beberapa kali,”
“ Artinya, sudah tidak ada yang bisa saya jadikan kejutan tentang lembah ini, yah. Semuanya kamu sudah tahu,” nadanya sedikit kecewa.
@boimakar
Saya berusaha mengihbur, “ Belum tentu. Masing-masing orang kan punya cara pandang sendiri tentang suatu tempat atau suatu kejadian. Meski sudah datang berkali-kali kepasar, selalu saja ada yang baru kita lihat disana. Begitupun kesini, meski sudah beberapa kali, saya yakin, masih ada yang belum saya lihat sementara kamu sudah lihat,”
“ Benar juga, yah. Kamu memang pintar,” dia mengangguk dan menepuk pundak saya. Saya hanya tertawa kecil. Kemudian mengangkat bahu, minta ceritanya dilanjut.
“ Baiklah. Hmmm...” dia seperti berfikir sesuatu. “ kamu tahu, kalau diujung lembah sana itu, ada sarang macan kumbang, dan beberapa kali, banyak orang yang pernah kepergok dengan mereka?” tanyanya.
Saya mengangguk. Tanpa menjawab.
Dia sedikit kecewa. Namun, rona mukanya kembali ceria. “ Eh, kalau ternyata dulu, lembah ini juga pernah ditumbuhi mawar-mawar yang cantik, kamu juga tahu?” tanyanya lagi.

Saya menangguk. Kembali tanpa menjawab. Memang, saya pernah juga menemukan beberapa tangkai mawar disini. Kecil-kecil. Persis seperti mawar yang asli. Bukan mawar yang sudah di kawin silangkan.

“ Ah, kalau semuanya kamu sudah tahu, harus cerita apa lagi?” dia menyerah. Menarik beberapa rumput kering yang ada di dekatnya dan melemparkannya keatas, hingga terbang di tiup angin dingin yang semakin dingin.

Saya ragu untuk menanyakannya. Tapi, bayangan tentang betapa dia memendam cerita kematian kawannya disini, ditempat kami duduk dan memandang lepas ke sabana keriing ini, semakin menggelitik. “ Cerita tentang kawanmu yang mati disini itu, saya tidak tahu,” kata saya kemudan. Dia menoleh dan menatap lekat mata saya dengan tajam.

“ Kamu tidak tahu?” tanyanya.
“ Tidak”
“ Sungguh?”
“ Iya,”

Dia membaringkan tubuhnya yang kecil itu diatas rumputan seperti tadi. Lalu menarik nafas panjang. Mengenakan kaca mata hitamnya, dan diam. Seperti tertidur. Tapi beberapa menit kemudian dia bangkit tergesa-gesa. Duduk terburu-buru di samping saya, mengambil botol air teh panas dan menuangnya sedikit dalam tutupnya. Mengambil beberapa butir kacang coklat, dan melemparkannya sekaligus ke mulut.

“ Maaf, tadi aku hampir ketiduran,” kemudian tawanya pecah. “ Saya akan ceritakan tentang kawan saya itu, tapi janji yah. Ini antara kita saja. Janji?” dia menjulurkan kelingkingnya.

Saya meraih kelingkingnya dengan kelingking saya, kemudian mengangguk pelan. Benak saya menerka-nerka, orang seperti apa yang mati disini. Kenapa disini? Apakah sosok mungil disamping saya ini, ada disini waktu hari itu? Atau dia yang menjadi penyebab kematiannya? Ah. Tak ada satupun yang bisa menjawab semua itu. Saya menunggu ceritanya.


“ Hari itu. Bulan November. Akhir November. Aku membangun tendaku sendirian dalam hempasan angin dan hujan petir...” dia mulai bercerita... (bersambung ) (BMKR/221113) 

No comments:

Post a Comment