November 19, 2013

Lelaki : Edelweis Kering di Lembah Abadi – Bagian 1

“ Masih jauh?
Pertanyaan itu, seperti berondongan peluru yang dimuntahkan dari senapan serbu AK47. Bertubi-tubi dia menembak tepat di gendang telinga. Beberapa memang luput, namun lebih banyak yang bersarang. Sementara jalanan kecil berkelok-kelok, penuh akar-akar pohonan hutan yang berumur mungkin lebih seratus tahun, muncul disela-sela daunan tua yang jatuh ke tanah. Menjadi lembab. Bahkan mungkin dia tidak kenal sama sekali sinar matahari dibawah sini.

Beberapa bagian, pohonan tumbang dengan sembarang. Memotong jalur kecil yang terasa terus mendaki. Ukurannya tidak merata. Beberapa sangat besar, hingga rasanya hampir mustahil untuk meloncat keatasnya. Sisanya, kecil-kecil tapi banyak dan rapat.

“Masih Jauh?”
Pertanyaan itu lagi. Rasanya, kuping saya ingin sekali disumbat, hingga tidak usah mendengarnya. Seperti percuma menjelaskan jarak tempuh pada keadaan seperti sekarang ini. Persepsi bisa saja salah. Estimasi bisa saja meleset. Tiga puluh menit, sama artinya dengan tiga jam. Begitulah. Ketika paru-paru mengharap lebih banyak oksigen untuk disalurkan ke otak, sementara pada kenyataannya tidak, rasanya, salah terus yang terjadi. Otak tak bisa mengukur ini dengan jelas.

Sedang apa dia disana, dibawah sana ..
Mengertikah dia tentang lebatnya hutan dan dinginnya kabut?
Mengertikah dia tentang daun-daun yang membusuk

Sedang apa dia disana...
Apakah awan yang ada diatasku,
Sama dengan yang ada diatasnya...

“Perlu apa lagi? Sudah semua?,”
Diam-diam, saya mengagumi ketelitiannya ketika ikut membereskan peralatan. Meski bukan pertama kali kesini, dua pertanyaan itu seperti kehawatiran dan perhatian. Saya mengangguk. Membereskan segala perlengkapan dalam satu tas, kemudian menentengnya dengan satu tangan, mengukur beratnya. Meski tidak yakin dengan ukuran pastinya, tapi saya masih bisa membawanya lari, pikiran nakalku.

Rentang waktu tidak pernah menjadi semakin pendek. Ada lebih dari empat tahun, terakhir kali saya menginjak kaki di sini. Menyalami pucuk-pucuk bunga yang bermekaran dengan tetesan embun lembut yang belum semuanya kering dalam bakar mentari pagi.

“Kamu tahu, kenapa lembah ini begitu suci, buat para pendaki?”
Saya menggeleng, “kenapa memangnya? Rasanya biasa saja. Tidak lebih indah dari lembah-lembah lain yang saya pernah datangi. Bahkan dari tetangga nya yang paling dekat sekalipun,”

Dia tertawa keras. Suaranya, seperti lepas menembus atmosfer, memecah langit dan terus ke langit. Menghilang dan tidak ditarik oleh gravitasi kembali kebumi. Dan yang pecah di bawah, menelusup diantara rumputan kering, tempat duduk kami. Menyebar menjalar kedalam rapatan pohon-pohon tua yang mengelilingi lembah ini. Mata saya menyapu sekitaran. Memutar pandang dan badan dua kali, memastikan tidak ada yang merasa terganggu dengan tawanya yang keras. Entah itu, hewan-hewan yang mungkin sedang beristirahat dan merasa terganggu, atau mahluk lain yang kemudian tiba-tiba muncul karena teraganggu.
 
“ Kenapa kamu, kayak orang ketakutan begitu?”
“ Nggak apa. Cuma takut ada mahluk aneh yang tiba-tiba numbruk dari belakang. Karena keganggu dengan suara keras tertawa mu tadi,”
Bukannya berhenti, tawanya semakin menjadi. “ Jadi pengen liat, mahluk kayak apa yang datang nanti yah.” Katanya santai.
“ Terserah kamu aja lah. Saya nggak ikut campur kalo beneran kejadian,” saya berkelit. “ Eh, tadi kenapa emang, alasannya?”
“ Yang mana?” suaranya sedikit aneh, karena ada sebongkah biskuit besar sekarang bersarang dimulutnya. Sambil terus mengunyah dan memainkan matanya mendelik, dia berusaha menelan biskuit dalam mulutnya. Orang yang aneh, pikir saya, sambil menyodorkan botol air minum berisi teh hangat. Dia membuka botol itu, kemudian langsung meminumnya. Beberapa detik kemudian, dia menyemburkan lagi teh itu dari mulutnya, sambil memaki-maki. Saya tak bisa menahan tawa. Rasakan, kata saya. Dia menggerutu.

Setelah tenang, dia membetulkan duduknya. Kelihatan serius betul kemudian menoleh ke saya, “ Benar pengen tahu?” tanyanya.
Saya mengangguk pelan, tidak bersuara.

“ Lembah ini, hanya kecil saja. Tidak pernah ada orang yang mati-matian untuk bisa sampai kesini. Bahkan, dalam photopun, dia nampak tidak elok. Tidak ada pemandangan memukau. Hanya rumputan kering dan bunga-bunga edelweis yang nampak kesepian dimainkan angin. Sungai nya saja tidak pernah berisi air. Bukan tidak pernah, hanya saja, jarang terisi air. Jika hujan turun lebat sekali, baru dia ada air. Tempat apa ini?” dia menyulut rokoknya. Menghisap pelan asapnya, kemudian menyemburkannya ke muka saya. Saya menepis nya. Mengambil rokok itu dari tangannya kemudian bergantian menghisapnya.

Dia melanjutkan, “ bukan pula, karena tempat ini adalah tujuan orang-orang hebat. Penyair penyair kenamaan, menyebutnya berkali-kali dalam tulisan mereka, sambil menggambarkan ke mistisannya. Kalau kamu itu traveler yang merasa puas dengan keindahan warna warni dunia, kamu tidak akan merasakan apapun disini. Semuanya nampak sangat tidak menarik. Setuju?”

Saya menoleh, “ entahlah. Tapi rasanya semua yang kamu bilang itu benar. Tidak ada warna warna dunia disini. Hanya hutan lebat yang mengelengkungi rumputan kering dan bunga-bunga kering juga. Tapi ada langit biru diatas kita, kan?”

“ Ah, bodohnya kamu. Langit dimanapun akan tetap biru. Kecuali kalau penuh polusi atau malam hari. Atau tertutup awan. Dari balkon rumah mu pun, langit akan begitu,” sanggahnya.

Saya tahu maksudnya, hanya saja, senang menggoda dia yang selalu menggebu-gebu dan penuh teka-teki. Setiap kali kami bicara, dia seperti seorang ahli filsafat yang akan dengan antusias menerangkan tentang banyak hal kepada saya.

“ Lalu apa?” tanyaku – (bersambung ) / (BMKR/191113)



No comments:

Post a Comment