October 24, 2013

Lelaki : Cerita dari Gunung – Bagian 2


Pertemuan saya dengan mas Gatot, beberapa tahun yang lalu, membuat saya kembali mengingat cerita itu. Sebuah perjalanan, ketika keremajaan dan pubertas meledak-ledak. Ada sekelumit pembicaraan yang terus terendap dalam benak saya. Sesekali membendung manakala egoisme itu begitu keras menghentak ingin keluar.

photo by @jerry_tommm

“ Mas Boim, naik gunung emang cari apa?” tananya mengejutkan.
“ Nyari apa ya mas. Saya nggak  ngerti pertanyaannya,” saya menghindar karena tidak siap mendapatkan pertanyaan begitu. Rasanya, letih berjalan dari sore tadi, hingga sampai hampir tengah malam ini, masih terus terasa.

Dia menghela nafas. Kemudian tertawa kecil. Menghisap rokok nya yang tinggal setengah, dan menghembuskan asap putih bercampur uap nafas yang tersamar. Menggeser duduknya sedikit. Sekarang dia mengangkat lutunya sebelah, dari posisinya yang bersila tadi.

“ Maksud saya, kenapa mendaki gunung? Kan enak di  kota. Naik gunung sudah capek, panas, dingin, lapar. Belom lagi ongkosnya mahal. Lha, saya kan deket. Naik motor gak sampe 10.000 udah sampai sini,” lanjutnya.
“ Ohh,, itu. Ya. Seneng aja mas. Kata orang sih, untuk mencari jati diri. Jadi ya, ikut deh. Begitu kayaknya,” kata saya. Yakin benar dengan jawaban itu.
Dia terdiam sebentar. “ udah ketemu? Jati dirinya?” lanjutnya.
“ Heh?!”
“ Iyah. Tadi katanya nyari jati diri. Udah ketemu belum?”

Rasanya, muka saya pasti merah membara. Malu betul. Sebenarnya, apa jati diri itupun, saya tidak pernah tau. Hanya mendengar dari orang-orang saja. Bagaimana wujudnya dan dimana mencarinya, serta bagaimana cara mendapatkannya, saya tidak pernah mengerti. Apa kalian tau, apa itu jati diri kalian? Kenapa mencari kegunung-gunung?

Jati diri itu, tidak pernah di buang. Jati diri itu melekat di dalam badan, dari sejak kamu dikandungan. Kemanapun kamu cari, ya nggak akan ketemu. Dia bukan dicari. Bukan pula ditemukan. Jati diri itu erat kaitannya dengan etika, dengan pembawaan, dengan bagaimana cara kamu menerima hidup sebagai hidup. Hidup itu tentang penerimaan. Tidak dengan perlawanan diri. Mendaki gunung untuk mencari jati diri, adalah perlawanan dirimu, kepada emosi yang terlalu tinggi. Merasa mampu menyelesaikan apapun. Merasa gagah. Merasa punya kekuatan bisa berdiri lebih tinggi dari pada yang lain. Penerimaan bukan berarti diam. Carilah jati dirimu, dalam dirimu. Tidak diluar sana, bukan dikabut-kabut gunung. Bukan dalam samudra atau gelap nya goa-goa. Kenali diri dulu. Baru jati dirimu akan kamu lihat.

Begitu ucapan mas Gatot yang selalu terendap dibenak. Dia jadi semacam benteng buat saya. Dan ketika saya renungkan berulang-ulang, saya sependapat dengan itu.

Pertemuan saya dengan mas Gatot, memang sudah beberapa tahun yang lalu. Tapi rasanya dia terus hidup dalam sanubari saya. Wajahnya yang tulus, khas betul. Ucapannya yang lembut, namun pasti dan tidak pernah berkesan sombong, rasanya masih mendengung ditelinga, sampai ke hari ini.

Hari itu, saya kembali kesini. Ke kaki gunung tempat beberapa tahun yang lalu saya pertama kali mendaki kesini. Tidak banyak yang betul-betul berubah. Hanya, warung-warung yang nampak semakin banyak. Parkiran yang sudah diberi aspal rapi. Dan meski tidak betul-betul rapi, nampaknya ini sudah mulai diatur.

Ramai betul pendaki-pendaki era sekarang. Rata-rata masih muda belia. Remaja yang sedang mencari jati diri, sama seperti yang saya lakukan beberapa tahun silam. Rombongan-rombongan berjumlah lebih dari sepuluh orang, nampak memenuhi tiap warung yang ada. Menunya masih sama. Mie rebus, hingga nasi rames. Jangan takut mahal. Disini semuanya terjangkau.

Pendakian saya kali ini, juga bukan pendakian sendiri. Rombongan saya lebih dari tiga puluh orang. Kami mengenakan kaos seragam yang kalau nanti dipakai dipuncak akan sangat cling. Sangat cantik kelihatan dimata.

Jalananpun masih sama. Setapak dengan debu-debu yang mengepul bebas. Ladang pertanian dikanan kirinya, masih juga sama. Beberapa petani masih sibuk dengan pekerjaannya. Hari memang masih cukup pagi. Dan udara bagus betul hari ini. Tidak ada alasan untuk mereka, barangkali, menyelesaikan pekerjaan lebih awal.

Dan kami mulai berjalan. Membelah jalanan sore hari itu. Alasannya, supaya tidak terlalu terik. Dan nampaknya itu masuk akal.

Perjalanan ini,
Membawaku pada sebuah pertanyaan
Yang lama hilang
Inikah pembukti kesejatian?
Inikah pencarian jati diri?

Aku siapa?
Aku dari mana?

Hingga pada tempat yang saya betul-betul ingin tuju, saya berhenti. Membiarkan kawan-kawan yang lain mendahului. Alasan saya, ingin istirhat dulu. Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dengan mas Gatot. Disini. Yah, ditempat ini. Saya mampir. Ada dua pendaki lain, yang nampaknya warga setempat. Setelah berbasa-basi, saya duduk. Mengambil air minum dan duduk membakar rokok.

Rasanya, saya masih  ingat betul. Malam ketika mas Gatot memberi saya wejangan tentang jati diri itu. Ingat bagaimana dia tertidur sambil duduk, ketika saya berangkat ke puncak menjelang subuh. Disini. Ditempat ini.

Jadilah saya bercengkrama dengan dua pendaki yang sedang istirahat tadi. Dari mereka, saya tau bahwa mereka sedang menunggu seorang teman lagi. Jadi mereka menunggu disini.

“ Nah, itu mereka sudah datang,” kata seseorang dari mereka. Sambil menunjuk ke arah jalur setapak dan melambaikan tangan. Saya yang membelakangi jalur, jadi ikutan menoleh sekilas. Seorang lelaki dengan seorang anak kecil, mungkin berusia sekitar tiga tahun, nampak dikejauhan.

“ Ah, anak ini, tadi rewel dibawah. Minta jajan dulu. Jadi saya naik agak lama. Maaf yah.” Kata-kata yang diucapkan dalam bahasa Jawa itu, terdengar dari belakang saya. Saya yang baru akan menempelkan gelas ke bibir, kemudian berhenti. Rasanya, suara itu tidak asing buat saya. Rasanya, saya mengenal sengau berat suara dari belakang saya itu.

Saya menoleh. Dan terkejut setengah mati ketika mendapati itu, adalah mas Gatot. Menggandeng seorang anak kecil yang lucu. Dia terlihat tenang.

“ Apa kabar, mas Boim?” katanya santai. Seolah baru kemarin sore kami ketemu. Saya menjadi gugup. Rasanya seperti mustahil bertemu dengan orang beberapa tahun lalu, kemudian bertemu lagi ditempat yang sama.

Dia duduk. Anak yang digandengnya tadi juga duduk. Mengunyah makanan yang dia bawa-bawa. Kemudian beringsut ke pangkuan mas Gatot.
“ Namanya, Elang. Dia anak saya mas,” katanya.

Saya masih terbengong. Dia duduk disebelah saya, kemudian menepuk punggung saya.
“ Alam yang mempertemukan kita, mas. Jangan risau,” katanya.

Kemudian tersenyum. Masih dengan senyum yang itu. Yang dulu.

Dan ketika alam memanggil
Batin tidak kuasa untuk mangkir
Kemana dia menyeru, kesana badan dibawa

Pada kabut dan angin dipegunungan, saya titipkan
Salam dan do'a
Buat seseorang yang jauh disana...
Aku sudah menemukan jati diriku
 .....

Saya terpana. Pertemuan yang aneh. (bmkr/241013)

No comments:

Post a Comment