October 23, 2013

Lelaki : Cerita dari Gunung – Bagian 1



Jika bukan karena photo yang aku lihat di sebuah majalah, rasanya malas betul pergi jauh-jauh ke tempat ini. Sendirian pulak. 

Namun, awan putih dengan langit biru, yang malatari bebatuan berwarna keperakan itu, rasanya memanggil-manggil dengan derasnya. Dengan berbekal wejangan dari seorang teman, keril dan segala isinya, lengkap dipanggul. Naik turun antara kereta api ekonomi dan angkutan umum yang penuh sesak dengan orang-orang yang lebih membutuhkan, sebetulnya, ketimbang saya yang hanya memuaskan hasrat tersendiri.

Sore merembang dengan cerahnya. Lembayung belum lagi muncul di ujung cakrawala sebelah barat. Dingin menyergap bersama hembusan angin yang lambat menerpa. Meski sudah memakai jaket, rasanya dia menerobos bebas, membelai kulit yang belum mandi dari kemarin sore. Pelataran luas, berisi warung-warung yang berbanjar lurus. Cahaya remang dan dari lampu pijar lima watt, iringan musik dangdut yang diputar dari VCD player bermerk “murahan”, mengalun keras. Adzan Ashar baru saja lewat. Memanggil pohon dan hutan bersujud dan bertasbih. Juga jiwa-jiwa penganut ajaran kenabian Muhammad SAW.

Saya sendirian. Menata kembali sleeping bag dan tenda kecil yang akan saya gunakan nanti. Berkali-kali menimbang-nimbang, benda apa yang belum lengkap, dan tidak menemukan apapun, sebagai jawabannya. Mata menatap ke arah puncak. Hanya ada celah sedikit kelihatan. Diantara tulisan-tulisan besar yang dibuat mirip dengan kata Hollywood di Amerika sana.

Saya sendirian
Merenenungi panggilan gunung yang datang bertalu-talu
Saya masih muda
Hingga darah dan amarah seperti kopi  dan susu

Saya sendirian
Menelisik segala kemungkinan pembuktian kesejatian
Saya masih muda
Tak tau mana yang pantas dan tidak patut dituturkan

Jalanannya, penuh debu. Berkali-kali saya mencipratkan air pada slayer kecil yang saya pakai untuk menutupi mulut dan hidung. Meneruskan langkah kecil yang semakin keatas. Beberapa pendaki lain, berebut jalur dengan kelambatan saya. Menerobos dengan cepat mengejar waktu yang terus berjalan tanpa bisa menunda gelap. Sore begini, pendaki-pendaki gunung berebut naik untuk bisa mengejar Pos Terakhir. Pelataran ideal untuk mendirikan tenda sebelum mencapai puncak. Saya, masih terseok dengan pelan, diterpa debu-debu yang beterbangan oleh hantaman sepatu-sepatu dan sandal-sandal gunung setengah berlari itu.

Magrib hampir datang. Tapi langit masih cerah membiru. Hembusan angin semakin kuat menerjang. Menerbangkan beberapa dendelion kering yang dengan manisnya melayang-layang mengikuti arah tak tentu. Arah angin. Mereka seperti menari-nari ditiup angin sore itu. Membiarkan dirinya pasrah, tidak protes atau memberontak kemana mereka akan tiba. Semuanya hanya soal waktu dan kesempatan. Mereka begitu bijaksana.
Perut saya lapar. Berusaha untuk mencapai tempat aman untuk sekedar meluruskan kaki dan membuka bekal. Selagi menyaksikan pergantian hari menuju pekat. Malam selalu membawa misterinya sendiri. Dimanapun berada, malam seperti menyimpan sebuah rahasia yang susah untuk ditebak. Bahkan dia sendiri, enggan untuk memberitahu kepada siapapun. Dia adalah kegelapan sempurna, tanpa pembanding. Pelindung maha dahsyat tanpa pernah menyakiti.

Rasanya, saya selalu terpukau oleh pergantian siang dan malam. Betapa ia menyajikan beragam pertanyaan yang selalu tidak pernah terjawab, dan ingin selalu ditanyakan. Apa guna gelap dalam malam? Apakah malam itu gelap, atau gelap itu sendiri adalah malam? Entahlah.

“ Mampir, mas. Sudah akan magrib sebentar lagi. Nggak baik magrib-magrib terus jalan,”
Sebuah suara berat memanggil dari tepi jalan setapak. Sebuah pelataran kecil. Ada nyala api unggun kecil yang kelihatannya baru. Seorang lelaki berkulit gelap, duduk menghadapi nyala api yang terombang ambing dimainkan angin. Asap putih mengepul. Buta arah. Sesekali dia menerpa si lelaki itu, namun nampaknya tidak digubris.

Saya menepi. Melepaskankan keril yang makin terasa berat. Meregangkan badan dan ikut duduk didepannya. Setelah mengucapkan terima kasih dan basa basi perkenalan standar.

“ Saya dari Bekasi, mas,” jawabku ketika dia menanyakan dari mana asalku. Kemudian kami bercerita, masing-masing. Kopi panas menemani kami sepanjang petang itu.

“ Aku sudah beberapa kali kesini, Mas Boim. Maklum, kan dekat. Rumahku nggak ada 2 jam dari sini. Naik motor juga jadi,” katanya dengan sopan. Khas sekali ke-jawaan yang dia bawa. Dalam omongannya, tidak pernah saya dengar sekalipun dia terkesan menyombongkan diri. Tuturnya halus. Pembawaannya kalem. Dari ceritanya, dia selalu kesini setiap tahun. Terutama pada bulan, bulan tertentu. Bukan pesugihan. Dia hanya senang berada diketinggian. Meski tidak membawa tenda, dan hanya tidur dibawah hamparan bintang dan langit. Beralas tikar kecil gulung dan berselimut sarung.

Namanya, mas Gatot. Dia seorang petani tembakau. Pada saat senggang, dia biasa mendaki gunung. Seperti sekarang ini.

Obrolan kami, berlanjut, hingga larut malam. Saya yang tadinya akan mengejar pos terakhir, menghentikan langkah dan bertekad menemaninya, yang juga mendaki sendiri disini. Berbagi cerita dan berbagi kehangatan kopi yang kemudian kami seduh terus menerus.

Menjelang subuh, saya memutuskan untuk bergerak ke puncak. Setelah sempat tertidur, tanpa memakai tenda. Hanya fly sheet tipis yang dibentang sebagai atap. Mas Gatot menolak untuk tidur disana. Katanya dia akan berjaga semalaman. Namun, ketika saya bergerak, saya mendapatinya tidur, sambil duduk. Karena tidak tega untuk membangunkannya, saya meneruskan naik.

Hari itu, tidak begitu banyak pendaki yang sampai ke puncak gunungi. Hanya ada serombongan pemuda pemudi yang kemarin menyalip saya, dan beberapa tenda di pos terakhir.

Hingga ketika saya memutuskan turun, saya tidak berjumpa dengan mas Gatot. Entah dia turun sebelum kepuncak atau saya yang memang tidak memperhatikan.

Bukankah,
pada setiap pertemuan, selalu ada perpisahan
Meski
tidak pernah ada yang betul-betul siap menjalaninya

Kita diciptakan untuk saling bertatap dan kemudian berpaling
Kita diciptakan untuk saling menyapa kemudian menggunjing
Kita diciptakan untuk saling mengenal kemudian melupakan

Bukankah itu kodrat?
(bmkr/231013)


No comments:

Post a Comment