October 29, 2013

Lelaki : Cerita Dari Gunung – Bagian 4

Kerlap Kunang-Kunang

Nyaris lebih banyak diam, ketika kami memasak. Mas Gatot dan dua temannya berbicara lirih dalam bahasa Jawa. Elang, sudah di pindahkan kedalam tenda prisma kecil, yang rasanya memang tidak akan cukup ditempati mereka semua. Dia terlelap sesudah memakan makanan warung tadi. Mungkin karena terlalu letih. Jadinya langsung tidur. Suara benturan nesting tentara dengan sendok untuk mengaduk, beberapa kali terdengar. Rasanya janggal juga, tidak berbicara banyak waktu masak begini. Saya memasak sendirian. Merebus air untuk membuat teh, sementara mereka sibuk memasak yang lainnya. Dan ketika dua gelas besar teh panas siap, saya sodorkan kepada mereka. Karena akan makan, jadi kita minum teh saja, begitu alasan saya.
photo by @qisyuteakar







Dalam satu jam, masakan kami sudah siap. Ada nasi hangat, yang sebetulnya saya bungkus dari bawah dan saya hangatkan, ada tempe goreng dan irisan cabai hijau besar, dimasak ala kadarnya, kemudian ada juga mie rebus yang disulap jadi sayur. Lengkap. Dengan kerupuk yang memang ternyata sudah disiapkan juga. Rasanya nikmat betul, makan berempat. Elang tidak makan. Dan kata mas Gatot, kalau nanti lapar, dia pasti bangun dan akan minta sendiri. Jadi kami membiarkan dia tidur selagi bersantap.

Seekor kunang-kunang terbang menyeliap diantara kami berempat.  Kelip cahayanya, berbaur bersama pecahan bara kayu api unggun yang terbakar dan terbang dihembus angin malam. Kemudian ia menjauh ketika nyala api membesar. Saya menatap gerak perlahannya. Sinarnya redup, berebut  terang dengan bara yang beterbangan dan lampu-lampu perkampungan dikejauhan, yang kalau dilihat dari sini, nyaris sama besar dengan kunang-kunang tersebut. Pelan sekali dia terbang. Seperti enggan meninggalkan kehangatan kami berempat dalam api unggun dan teh panas yang nyaman ini. Kenangan saya tentang kunang-kunang, rasanya sudah lama sekali tenggelam. Mahluk kecil bercahaya itu, buat saya selalu mempesona. Pada masa kecil, saya pernah berlarian mengejar segerombolan kunang-kunang  dan memasukkannya dalam gelas dan menutupnya dengan plastik. Seperti lampu listrik. Masa itu, kampungku belum ada listrik. Jadi inilah yang saya anggap lampu listrik saya pertama kali. Kemudian kami akan mencari jamur fosfor, pada rimbunan pohon bambu. Dan dengan keduanya, kami berjalan malam-malam untuk penerangan. Sudah lama sekali, pikir saya.

“ Kunang-kunang itu, kasihan juga yah? “ gumamku. Sebenarnya tidak ingin menarik perhatian siapapun. Namun tidak ayal juga menimbulkan komentar dari mereka bertiga.

“ Kenapa kasihan?” teman mas Gatot yang menyela.

“ Iya. Lihat saja dia. Punya nyala lampu untuk menerangi sekelilingnya, tapi tidak menikmatinya sendiri. Dan yang tadi kesini itu, sendirian kemana-mana. Mungkin dia terpisah dari rombongannya. Mungkin dia dikucilkan karena nyalanya tidak secantik yang lainnya. Mungkin juga, dia memang minder karena merasa begitu,” jawabku seenaknya.

Yang lain tertawa. Mungkin lucu juga mendengar celoteh ku yang seperti asal bicara. Namun, suasana kemudian menjadi lebih santai,

“Mas. Kunang-kunang itu, bukannya tidak pernah menikmati cahaya nya. Dia tetap menikmatinya. Dengan cara yang berbeda, dari yang menikmati cahayanya. Bisa jadi, dia merasa bahagia. Tapi apa kemudian dia memadamkan nyalanya? Kan tidak. Dia sudah memenuhi kodratnya. Memberi terang, tanpa meminta pamrih kepada siapapun,” kata kawannya yang lain.

“ Begitu yah?” aku tertegun. Berfikir bagaimana mereka bisa begitu arif cerita tentang kunang-kunang.

photo by google
“ Umur mereka pendek, Mas. Tanpa pernah sekalipun mereka letih memancarkan sinarnya setiap gelap datang. Hidup mereka efisien. Lahir, berguna dan mati. Meski tidak pernah dikenang, tapi rasanya mereka sudah berbuat maksimal. Selama tiga minggu, mereka mencurahkan daya upaya, tanpa kenal lelah untuk menyalakan diri. Memberi suasana gelap malam menjadi indah. Mengantarkan tawa buat anak-anak ketika mereka berebut menangkapnya, kemudian menyekapnya dalam botol dan gelas. Atau bahkan menjadi bait-bait puisi untuk para pecinta yang dimabuk asmara. Begitu, kan?” kali ini, mas Gatot yang bicara.

“ Rasanya, benar juga sih. Tapi mungkin juga mereka marah dan komplen. Tapi kita itdak bisa mengerti bahasanya, jadi tidak tahu,” sanggahku.

“ Karena itu pula. Jangan marah dan komplen kepada sesuatu yang tidak benar-benar dimengerti. Ada banyak hal yang tidak harus dimenerti. Kenapa umur kunang-kunang hanya tiga minggu paling lama? Apa gunanya hidup hanya sependek itu? Begitu mungkin yang ada dalam benak kita. Tapi, kita tidak perlu mengerti hal hingga kesana. Bisa jadi, jika umurnya lebih dari itu, mereka akan lebih menderita waktu mati,” lanjutnya.

“ entahlah,” aku menyerah.

Gelas-gelas yang kosong, kembali diisi. Kali ini, kopi pahit dan seonggok kacang kulit bakar. Yah, kacang tanah, yang dikeringkan, dengan disangrai saja. Kulitnya masih membungkus isinya. Rasanya akan garing sekali. Cocok dengan kopi pahit. Saya pernah makan ini, ketika pertemuan dengan mas Gatot pertama kali.

Tadinya, aku akan meneruskan ceritaku. Namun, topik tentang kunang-kunang dan filosopi yang keluar dari para petani tembakau itu, cukup memukau ku. Bagaimana mereka bisa membuat aku terpesona dengan pemikiran seperti itu? Siapa sebenarnya mereka ini? Batinku.

Yang datang dan yang pergi
Sama seperti percikan bara yang dihempas angin
Jauh melayang dengan terangnya,
Kemudian hilang.
Entah, karena mati
Atau karena memang sudah terlalu jauh dari pandang mata

Tidak ada yang bisa pasti menyimpulkannya.

Rasanya, begini juga kehidupan
Yang datang dan yang pergi
Seperti seleksi penerimaan murid disekolah-sekolah
Yang kuat bertahan
Yang lemah akan pindah mencari tempat baru

Dan aku..

Tenggelam dalam panorama kunang-kunang
Luruh dalam kuning cahayanya...

Bersambung (bmkr/291013)


No comments:

Post a Comment