October 28, 2013

Lelaki : Cerita Dari Gunung – Bagian 3

Berdamai Dengan Masa Lalu

“ Jadi bagaimana?”

Tiba-tiba, mas Gatot membuka suaranya. Matanya menatap saya lekat. Seperti menyelidik sesuatu. Membuka bungkusan makanan kecil warung yang di sodorkan Elang kepadanya. Menarik salah satu sisinya, hingga terbuka, kemudian menyerahkan kembali ke lelaki kecil dalam pangkuannya. Dengan riang, Elang menerima bungkusan itu, mengambil satu isinya, memasukkan ke mulut dan mulai mengunyah. Tawanya bahagia, ketika kunyahannya pada kali ke tiga atau ke empat. Mukanya yang polos, kecoklatan, berbinar-binar lucu. Sesaat, saya memandangnya dengan antusias.

photo by @qisyuteakar
 “ Lha, yang ngajak ngomong bapaknya, kok malah ngeliatin cah cilik iki, sambil senyum-seyum. Piye tho?” katanya kemudian.

Saya menoleh. Tanpa sadar, saya tersenyum menyaksikan wajah lucu anak kecil dalam pangkuan Mas Gatot. Betapa dia menikmati hidupnya dengan sangat sederhana. Bahkan, mengunyah makanan warung diketinggian begini, dalam dingin begini, setelah capek-capek naik masih bisa tersenyum bahagia. Berbeda dengan orang dewasa yang punya banyak pertanyaan dalam benaknya, nampaknya menjadi anak kecil tidak perlu bertanya apapun. Makan tinggal makan. Tidak kuatir dengan kadar MSG dalam makanan. Tidak kuatir akan menjadi gemuk atau kercunan. Semuanya sederhana saja. Hidup adalah tentang menikmati hidup itu sendiri. Aku iri.

Pluk. Aku terperangah. Sebiji kacang tanah mengenai jaketku. Saya terkejut, dan sadar. Rupanya terlalu lama saya melamunkan Elang.

“ Eh, iya mas. Apa tadi pertanyaanya?” saya balik bertanya, dan disambut gelak ketiga orang didepan saya.

Setelah bertanya ulang, mas Gatot membenarkan duduknya. Memindahkan Elang yang masih dipangkuannya. Menggeser sedikit, kemudian kembali menghujami badan saya dengan tatapan penasarannya. Saya bingung harus memulai dari mana. Bahkan pertanyaanya pun saya tidak mengerti. Apanya yang bagaimana? Tapi rasanya percuma saja menyembunyikan sesuatu kepada dia. Seperti seorang dukun, dia menerobos ucapan-ucapan saya menjadikan kesimpulan untuk memulai pertanyaan. Nada bicara, gerak tubuh dan pembawaan. Air muka dan tingkah laku, seperti sebuah buku yang berbahasa sandi dan harus diterjemahkan oleh pengarangnya sendiri. Atau mungkin, sebenarnya  dia sudah tau, namun pura-pura tidak tahu.

Gelap malam makin pekat. Magrib sudah lewat. Menyisakan lembayung senja yang berangsur-angsur diganti pekat. Ada beberapa cahaya kecil bintang berkedip-kedip dilangit malam. Desir angin dingin menggoyang rerumputan dan menghasilkan bunyi gemerisik yang shahdu.

 “ Apa yah. Rasanya tidak ada yang istimewa, Mas. Semuanya biasa-biasa saja,” elak saya memecah kebisuan. Suara bergumam muncul serentak. Saya tertawa kecil.

 “ Hanya aneh saja. Serasa tidak peracaya. Rasanya, seperti kemarin kita ketemu. Disini. Ditempat ini. Duduk dalam keadaan seperti ini juga. Bedanya, pada hari itu, saya sendirian, dan mas Gatot sendirian, “

 “ Sebenarnya, hari itu, saya tidak sendirian. Dua orang ini juga ikut. Tapi, kamu tidak sempat ketemu,” jawabnya.

 “ Ah, mana bisa? Kita terjaga semalaman. Mana bisa mereka datang dan saya tidak tahu. Apa mungkin ketika saya tidur?”

 “ Bukan begitu ceritanya. Tapi, ayolah. Ini bukan tentang kami bertiga. Ini tentang kamu. Bagaimana?” serangnya. Kedua lelaki disebelah mas Gatot mengiyakan. Dan dengan antusias meminta juga. Saya menyerah. Meski tidak tau apa yang mereka harapkan.

 “ Sebetulnya rumit, mas.” Saya memulai, “ dan panjang ceritanya,”

“ Tenang saja. Kami punya banyak waktu, sampai kamu bosan bercerita,” katanya kalem.

Saya menerawang bintang-bintang yang semakin banyak dilangit. Mencoba menyerap energinya untuk bisa punya kekuatan bicara jujur. Sudah lama sekali, rasanya tidak mencurah perasaan kepada siapapun. Saya tidak punya banyak teman, dalam arti sebenarnya. Kawan saya banyak. Tapi untuk bebas menceritakan segala hal, rasanya bisa saja mustahil. Masing-masing kami dieratkan karena kepentingan tertentu. Bukan karena ingin mendengar dan didengar. Kalaupun ada, rasanya hanya karena mereka menghargai atau perasaan tidak enak. Lihat saja, ketika cerita mereka berubah karena sudah menikah atau kaena pekerjaan yang membuat dua puluh empat jam terlalu sedikit, jangankan bertemu, telepon saja selalu dijawab dengan sepatah dua patah kata. Atau kalau SMS, jawabnya sudah bisa ditebak. Sedang meeting, nanti saya telepon balik, yah. Dan setelah itu, selama berhari-hari, berminggu-minggu, tak pernah ada kabar berita dari dia. Atau, jikapun dijawab, dengan jawaban, “tumben SMS, ada apa nih?” seperti, telepon dan sms itu hanya untuk sesuatu yang ada-ada saja.

 “ Hidup itu aneh ya Mas. Saya dan mas Gatot tidak pernah bertukar nomor telepon atau mengirim kabar. Namun, sepertinya pertemanan yang seperti ini yang membuat kita selalu ketemu ditempat ini. Dua kali, dengan sebuah pertemuan yang tidak terduga. Banyak sekali perubahan. Namun semuanya seperti tidak ada. Sekarang sudah ada Elang. Bahkan saya tidak melihat kau akan menikah waktu itu. Sepatah pun, mas Gatot tidak menyinggung tentang itu,”


photo by @qisyuteakar
Mas Gatot tersenyum. Mengelus rambut anaknya yang sudah tertidur. Membetulkan selimut dan menambahkan jaket ditubuh mungilnya. Saya memandangnya sesaat. Dalam keremangan api unggun yang berbunyi gemeretak, kayu-kayu yang terbakar. Nyalanya mistis. Suaranya mistis.

 “ Saya keluar dari pekerjaan saya. Pekerjaan yang sudah saya geluti selama lebih dari enam tahun. Rasanya sayang bukan? Tapi begitulah. Mungkin karena saya masih terlalu muda, rasanya tidak bisa membedakan mana kenyamanan dan mana egoisme yang meledak. Ini seperti sebuah hukuman, dari kecongkakan saya terhadap diri saya dan lingkungan saya. Saya merasa terlalu sempurna. Terlalu aman dengan hidup saya. Kemudian saya naik gunung. Berusaha membuang amarah saya yang terus-menerus memuncah. Seperti sebuah gunung api yang siap meledak. Kadang-kadang aneh juga. Kenapa bisa begitu hebat dorongannya. Namun, apa boleh buat. Energi masa muda saya terlalu kuat dan mengalahkan pikiran normal saya. Kemudian saya memulai pekerjaan baru. Dengan bayaran yang jauh lebih rendah dari tempat saya pertama kali bekerja. Tapi saya senang melakukannya. Seperti mas yang salalu senang bertanam tembakau. Senang pula saya dengan urusan yang ini. Dan lingkungan pun ramah.”

Saya berjeda. Mengambil gelas merah yang berisi kopi dingin dan menghirupnya perlahan. Merasakan dingin nya melewati mulut dan kerongkongan. Manis dan pahitnya, seolah terpisah dan melekat di lidah dan dinding-dinding mulut. Seperti tersedot oleh sebuah enjim dan mengikatnya disana untuk beberapa saat.

 “ Pacar saya, memutuskan hubungannya kami. Setelah empat tahun kami menjalin hubungan,” pada bagian ini, suaraku memelan. Aku menelan ludah. Menetralkan manis dan pahit kopi yang kemudian bertambah getir, entah dari mana. “ Rasanya, mungkin dia sudah tidak melihat kecerahan masa depan dengan saya. Mungkin dia hanya memayangkan keragaman hidup yang lain. Kemapanan dalam arti kata sebenarnya. Saya terluka. Tidak bisa menerima itu sebagai sesuatu yang wajar. Bagaimana bisa, empat tahun dibalas dengan pemutusan hubungan dengan bicara empat menit? Konyol sekali, bukan? Tapi itulah yang terjadi. Akhirnya kami berpisah. Menjalani hidup kami masing-masing. Saya kembali ke gunung. Meneruskan pengembaraan yang belum usai. Meskipun, kalau harus jujur, rasanya beda betul, antara mendaki ketika seseorang masih mengharapkan kehadiran kita dibawah sana, dengan cemas mengirim SMS dan menanyakan ini itu, kemudian mendoakan semoga pendakian kita baik-baik saja, dengan tanpa ada seseorang yang begitu. Ada memang, keluarga saya selalu begitu. Tapi yang saya maksud, bukan dalam ikatan silsilah keluarga. Paham kan yah, maksud saya?”

Tidak ada yang menjawab. Hanya padangan kaku dan serius, diselingi sesekali beringsut membenarkan letak duduk, dan tangan-tangan yang menambahakan kayu buat api unggun, dan meminum kopi dingin. Air kembali dijerang. Masak-masak harus dimulai, kata mas Gatot. Sementara dia menyuruh saya melanjutkan cerita.

 “ Dulu, rasanya begitu senang membaca pertanyaan-pertanyaan yang kuatir, ketika turun gunung. Doa-doa dalam SMS yang tulus. Sekarang, seberapa keras pun saya mencoba melupakan itu, harapan ketika turun dan mendapati itu, selalu sia-sia. Seperti ada yang kosong. Seperti gorong-gorong yang selalu terisi air, kemudian kering. Hingga angin, bisa dengan leluasa menerobos dan membawa uap yang terisa. Begitulah. Saya mulai kosong. Setiap pulang naik gunung, akan ada berjam-jam buat saya menceritakan perjalanan itu. Dia seperti seorang bocah yang mendengarkan dongeng pengantar tidur. Seperti mahasiswa yang mendengarkan dosen yang menerangkan pelajaran. Meski tidak mengerti, dia masih bisa berandai andai. Dia ingin sekali naik gunung. Namun selalu saya tolak. Saya bilang, belum ada gunung yang cocok buat mu. Nanti saja. Dan dia hanya percaya sekali dengan saya. Didepannya, seya selalu berasa penting. Dan begitu juga, dia didepan saya. Rasanya, tidak ada yang tidak penting dari mendengarkan dia cerita tentang hari pertamanya mens, atau ketika temannya mendapat pecar baru. Ketika dia mulai belajar memasak dan menyuguhkannya kepada saya. Kami tertawa terbahak karena terlalu asin,”

“ Ah, saya terlalu banyak cerita yah?” saya berhenti, “ sini, biar saya yang masak. Saya masih ada makanan ful untuk kita makan malam ini,”

“ Boleh-boleh. Tapi, nanti selesai makan cerita lagi, yah. Kami mau dengar,” kata mas Gatot dan dibenarkan kedua temannya.

Langit memucat diatas kepala
Berkedip bintang-bintang mengajak bermain mata
Bayangan itu,
Raut itu tersenyum manis diantaranya
Terbayang bunga-bunga abadi
Dan jalanan setapak diantara batang-batang tua cantigi
Dia berseru ..
Kalau kamu jatuh di jurang itu, kemudian mati
Aku akan sedetik lebih lambat dari mu
Disana ...



Bersambung - (bmkr/281013)

No comments:

Post a Comment