September 25, 2013

Lelaki : Belajar Dari Yang Gila

photo @boimakar
Menyaksikan wajah-wajah murung dalam kerangkeng besi besar, berisi puluhan orang berbadan rata-rata kurus, hati rasanya miris. Belum lagi, beberapa orang yang dipasung dengan rantai besi dan ditambatkan pada tiang penyangga bangunan beratap asbes dan tidak berdinding tembok itu. Lantai putih yang terlihat selalu basah, menambah kelihatan lembab. Beberapa orang, jongkok di balai-balai yang terbuat dari papan teriplek yang diperuntukkan juga untuk tempat tidur. Jangan ditanya, seberapa bau tempat ini. Dan jangan juga bertanya, kenapa pakaian mereka compang-camping, hingga telanjang bulat pula. Mereka bicara dengan nada keras, berteriak meminta rokok, berteriak minta dibawa pergi dari tempat ini, mengaku tidak kerasan dan lain sebagainya.

Itu lah, sedikit gambaran tentang Yayasan Galuh. Pusat rehabilitasi mental, atau yang biasa disebut orang, panti orang gila.

Udara panas terik membakar Bekasi siang itu. Beberapa mobil terparkir dihalaman konblok yang kering. Puluhan anak-anak muda berbaur menggotong beberapa macam perlatan yang tidak biasa. Kain-kain  pel panjang, ember-ember besar, sembako, pakaian layak untuk dipakai dan masih banyak lagi. Wajah-wajah yang terlhiat bersemangat itu, berbaur dengan belasan orang yang yang mondar-mandir dalam dunianya sendiri. Ada yang sibuk menyalami semua orang disana, berkeliling dengan tidak pernah berhenti, kemudian akan balik menyalami lagi setelah selesai satu putaran. Ada yang sibuk melambaikan tangan kepada siapa saja, ada yang sibuk marah-marah, dan masih banyak lagi. Belum lagi yang hanya duduk-duduk, mengunyah roti yang diterima dalam kotak-kotak makanan kecil terbuat dari kardus, dalam diam. Tidak ada satu ucapanpun keluar dari mulut mereka. Puluhan yang lain, melihat kesibukan anak-anak muda itu dalam diam. Bergerombol ditempat-tempat teduh yang nyaman.

photo @boimakar
Tempat itu, penuh dengan orang gila. Yah, gila dalam arti sebenarnya. Cacat mental karena banyak alasan. Menurut pengurus tempat ini, ada lebih dari tiga ratus orang ditempatkan disini. Rata-rata mereka adalah warga binaan yang didapat karena titipan keluarganya. Separuh yang lain adalah orang-orang gila yang berkeliaran di jalan. Mereka diselamatkan dari jalanan, untuk kemudian disembuhakan.

Jangan percaya siapapun, disini. Setidaknya, begitu pemikiran saya, ketika banyak sekali omongan yang keluar dari mereka, nampak tidak ada bedanya dengan orang waras. Mereka tau, dimana letak gedung sate dan terminal baranangsiang. Mereka hafal, rumah mereka dan alasan kenapa mereka ada disini. Perbincangan-perbincangan pendek semacam itu, seperti akan membawa kita kepada sugesti bahwa mereka waras. Meski tetap saja, itu tidak selalu benar.

Yayasan yang di kelola oleh Pak Ajat dikawasan Rawa Lumbu, Bekasi ini, mempekerjakan sedikitnya empat puluh orang. Dibagi masing-masing untuk bagian kebersihan, masak-memasak dan bagian-bagian umum lainnya. Yang paling memprihatinkan adalah, adanya seorang bayi, yang lahir dari seorang warga binaan di sini. Entah siapa bapaknya. Begitulah kehidupan.

Dan serombongan anak muda yang membaur itu, ikut bergai kesenangan dan rejeki kepada mereka yang tidak seberuntung kita. Banyak pelajaran dipetik hari ini. Betapa, kita sering lupa berterima kasih kalau kita sudah dilahirkan dalam kesempurnaan fisik dan pikiran. (bmkr/220913)



No comments:

Post a Comment