March 26, 2013

Lelaki : Mempertanyakan Cinta


photo by @boimakar
Yang masih jadi kepercayaan diri adalah, bahwa cinta itu hak dan kewajiban yang dilebur jadi satu. mereka melebur, seperti adonan yang diuleni ketika membuat kue. Yang satu, memberi rasa kepada yang lain, tanpa ada yang ingin menjadi lebih kuat. Selaras dan tidak saling menyakiti. Hak dan Kewajiban itu, selaras didalam tubuh cinta. Menjadi nafas dan darah, atau bahkan menjadi nyawa dan raga.

Apakah akan serumit itu?
Bisa saja jadi begitu. Bayangkan ketika cinta hanya menjadi hak saja. Kita menuntut habis-habisan tentang cinta. Menginginkan segalanya menjadi mudah untuk kita. Merasa tidak mau disakiti, dan menolak untuk dikhianati. Menuntuk untuk mendapatkan perhatian lebih dan selalu dimanjakan oleh kemewahan-kemewahan perasaan nyaman dan senang. Berharap semuanya seperti peri yang tidak pernah tersakiti.

Sementara, jika dia menjadi kewajiban saja, dia akan memberi tak putus-putus. Melayani tanpa kenal pamrih. Mengorbankan dirinya, meski harus hancur, karena semangat pengorbanan itu menjadi kelihatan lebih penting. Rasa ingin menjadikan kebahagiaan menjadi wajib. Dia membakar dirinya, seperti lilin, untuk menerangi sekalilingnya. Kemudian, terang yang berganti gelap, tak pernah mengenang lilin itu sekalipun. Disinggung dalam obrolan makan pun, tidak pernah. Dan ia membiarkan diri mati, karena merasa wajib untuk menjadikan itu sebuah kebanggan. Seperti, mati dalam cinta adalah prestasi.

Dalam fikiran saya, cinta seharusnya melebur dalam hak dan kewajiban. Dia menyajikam kehangatan teh pada sore hari, untuk kemudian diminum dengan hangat obrolan. Tidak ada cacian, apakah itu terlalu manis atau terlalu pekat, semuanya dinikmati saja dengan nyaman. Itu adalah hak dan kewajiban. Perasaan untuk saling menenangkan, perasaan untuk saling memberi, dan ikhlas menerima. Bukankah ada pepatah yang bilang, kalau raga kita sebenarnya adalah pecahan dari raga seseorang yang kemudian harus dipersatukan untuk mendapatkan keutuhan? Layaknya teh dan gula, yang kemudian terasa lebih mempesona ketika bersatu, meski keduanya bisa menjadi bagian dari dirinya masing-masing jika mau.
photo by @boimakar

Hak dan kewajiban pada cinta adalah kesetaraan untuk berbuat tanpa ada rasa ingin lebih, satu dengan yang lain. Kemudian, apakah dia menjadi barometer kesuksesan, tentu tidak semudah itu menilainya, Bagaimana ia bisa menjadi mengalir apa adanya, dan bertemu kembali pada waktu berikutnya, itu cukup. Ia memberi, diberi. Meminta dan dipinta. Menyelesaikan dan diselesaikan. Nyaman dan membuat nyaman. (bmkr/1303)

No comments:

Post a Comment