March 07, 2013

Lelaki : Bersembunyilah

http://groomsadvice.com/wp-content/uploads/2011/02/bigstock_Cowboy_Silhouette_3089374.jpg


Perasaan ini, seketika takut luar biasa. Bayangan peristiwa masa lalu bolak-balik mengisi ruang pikir. Semuanya berjalan seperti deretan film yang tak bisa dihentikan. Meski mata ditutup, terpejam, bayangan itu semakin jelas terlihat. Dan ketika lampu kamar dinyalakan, dia menempel seperti lukisan dan gambar-gambar hidup didinding putih. Kadang beralur cepat, namun pada bagian-bagian tertentu, lambat sangat terasa. Seperti slow motion sehingga semua kejadian jelas terlihat hingga ke detail paling dalam.

Keringat mengucur. Namun tak ada tempat untuk melarikan diri. Berjalan kemanapun, dia mengikuti. Saya takut luar biasa.

Saya percaya, persahabatan itu, terjadi hanya pada saat kita melajang. Pada masa itu, ada banyak hal yang rasanya indah sekali untuk dikenang. Tak ada hal yang nampak tabu. Sah-sah saja berbuat ini dan itu. Melanggar peraturan, makan ditempat-tempat sembarangan, atau mengembara melampiaskan masa lajang yang penuh dengan ambisi dan cita-cita. Persahabatan itu, seperti sebuah ikatan tanpa tali. Saling menyatukan. Merasa sakit ketika yang lain sakit, merasa berdosa ketika yang lain melanggar aturan. Mentertawakan kebodohan seperti seorang anak yang tidak pernah berasa susah.

Namun, ketika masa lajang itu lewat, tak pernah ada benar-benar persahabatan. Perkawanan menjadi absurd. Saling meninggalkan, saling merasa punya jurang yang dalam untuk sama-sama dituruni bersama. Mungkin, si lajang masih ingin mengembara, tapi yang sudah tidak lajang lagi, mengembara dalam versi nya sendiri. Dengan kehidupannya sendiri.

Perkawanan itu, seperti dirampas paksa. Si lajang ingin selamanya mengulang kehidupan pengembaraan tanpa batas yang sedari dulu dikisahkan pada diari dan buku-buku puisi. Mengarungi malam-malam pada bangku terminal yang dahulu dijadikan tempat nyaman untuk tidur, bersama. Mendatangi lembah-lembah dalam penuh bunga berwarna ungu, kemudian mendirikan tenda dan mendengarkan raungan kematian babi hutan dimangsa predatornya.

Rasanya, bagai kulit yang terkelupas. Perih. Mengingat semua itu. Namun, semua kehidupan pasti menuju kepada ujung yang lebih baik. Jika tidak didunia ini, pasti diakhir nanti (bmkr 03/13)

No comments:

Post a Comment