March 26, 2013

Lelaki : Aurora, Sebuah Nama

http://politesocietymagazine.com/blog/wp-content/uploads/2012/10/fotos_de_aurora-boreal.jpg
Sebut saja begitu, Aurora. Semburat warna-warna indah dilangit karena angin matahari. Dia muncul di utara dan selatan. Aurora berasal dari bahasa Yunani, untuk dewi Fajar. Sebegitu indahnya, sehingga ia berwujud seorang dewi.

Belakangan ini, Aurora muncul berkali-kali dilangitku. Membias diantara biru. Menyemburatkan warna-warna indah yang tidak terdefinisi. Mata ini,tak pernah lelah memandang. Meski leher sesekali sakit karena terlalu sering tengadah. Namun, reaksi pertama ketika dia muncul selalu sama. Mulut menganga lebar menyaksikannya. Takjub.

Pada suatu hari, aku mendapati dia bicara kepadaku. Ini bukan mimpi. Aku tidak mabuk. Berhalusinasipun tidak. Cukup sadar aku membedakan letusan petasan dan rintihan nyamuk yang terbang ditelinga. Cukup sadar mengerti bahasa semut yang kelaparan karena sarangnya diganggu oleh manusia.

" Tuan, kenapa terus memandangi aku begitu," kata Aurora, diantara deru angin yang kencang. Menerbangkan aku yang semakin lama semakin jauh mengawang.

" Apa, kau benar dewi Fajar yang sering dibilang orang? Apa kau Aurora?"

" Begitulah. Aku Aurora. Kenapa kau terlihat begitu takjub? Apakah ada yang aneh dengan diriku?"

Aku terdiam.

Kemudian dia melanjutkan ucapannya, " Aku terus-terusan risih, kau pandangi seperti itu. Kamu kelihatanya sangat kagum kepadaku. Tapi jangan kuatir, bukan hanya kamu saja yang begitu. Ada miliaran orang dibawah sana yang serupa dengan mu. Memandang ku dengan kagum, namun tidak bisa memilikiku. Aku hanya milikku sendiri, Tuan. Bukan kepunyaan siapa-siapa."

" Apa kau tidak pernah kesepian? Sendiri mengawang dilangit jauh, tanpa ada teman?" aku penasaran.

" Ah, apakah tuan ingin menjadi kawanku?" katanya sedikit berbinar. Aku targugu, benarkah aku mau menjadi kawannya? Bukan yang lain..

" Tapi, jangan salah sangka, Tuan," lanjutnya, " Pertemuan kita baru beberapa detik, jadi jangan terlalu berharap. Tubuhku panas, dibalik keindahan yang kau lihat dari bawah. Warna-warnaku membakar. Jangankan untuk menyentuhku, mendekat pun, belum ada yang bisa. Jadi, mari kita bicara dalam jarak yang aman saja, agar kau tidak perlu merasa panas dan terbakar oleh ku," lanjutnya.

bersambung (bmkr/1303)

No comments:

Post a Comment