February 08, 2013

Lelaki : Harap Pada Secangkir Kopi


image of http://www.vanhoutte.com
Lembah itu sepi. Sejenak angin sepoi pun terasa seperti riuh kereta api. Membisingkan. Saya bisa mendengar nyanyian burung, kesepian diujung ranting cemara, dan dengus nafas seekor tikus yang lalu lalang dari tadi, dengan gerakan yang dibuat sesepi mungkin. Rumputan yang kering, tergesek angin, menciptakan irama merdu savana yang kering dan kecoklatan. Langit membiru. Awan lincah menari dalam siraman matahari sore yang sudah hampir lewat. 

Cangkir kopi itu masih terisi setengah. Sudah dingin. Keharuman aromanya memudar seiring dengan panas yang pelan dan pasti menguap bersama udara kosong. Mungkin, dia sudah sampai ke awan putih lincah itu, uap nya, dan sudah bertemu dengan kawan-kawannya yang lain, sesama uap dari gelas kopi yang ditinggalkan peminumnya, untuk turun menjadi hujan dengan bentuk yang lebih jernih. Dia, Cangkir itu, mematung. Seperti tidak tergerus oleh detik jam yang merangkak pelan menuju gelap. Sementara kerajaan siang diganti dewi malam yang anggun. Masih disitu, menyisakan setengah isinya, yang bergelombang kecil dipermainkan angin lembah yang kaku dan dingin.

Duduk disebelah sang Cangkir yang mematung itu, sesosok lelaki yang tidak terlalu peduli dengan lingkungan. Membiarkan lalat-lalat yang hinggap dibadannya. Membiarkan, tawon yang dari tadi terbang mendengung dalam jarak dekat. Suaranya seperti pesawat terbang yang memekakkan telinga. Namun, sigap dia menghalau lalat yang akan singgah dalam Cangkir Kopi yang Masih Terisi Setengah itu. Dipandanginya berkali-kali, seolah khawatir jika isinya, akan berkurang dari setengah karena ulah si lalat-lalat tadi. Dia menjaganya seperti pertapa yang menjaga pusaka. Menjaganya seperti ibu yang menyaksikan anaknya tidur. Ditangannya, tergenggam Cangkir yang lain.

Si Lelaki itu, memandang lurus kedepan. Horizon menguning dan bertambah gelap. Pohonan dan rumputan, seolah bersalam untuk malam yang datang dalam sekejap. Semua menjadi semakin sunyi. Cangkir Kopi yang Masih Terisi Setengah seperti tidak perduli dengan malam yang akan datang. Air gelap dalam badannya, bergoyang riang dimainkan angin. Semakin dingin ia, dan semakin pekat terlihat karena gelap. 

" Aku tahu, dia akan datang. Buka begitu, wahai Cangkir Kopi yang Masih Terisi Setengah?" katanya lirih kepada Cangkir itu. " Tuan mu, akan datang kembali kepadamu, dan menghirup habis kopi itu." lanjutnya. Meletakkan Cangkir yang Lain itu, 

Cangkir Kopi yang Masih Terisi Setengah itu membisu. Seolah tidak peduli. Lelaki itu tersenyum. Dan menunggu hingga pagi. Namun, Cangkir Kopi yang Masih Terisi Setengah itu, tetap seperti kemarin. ( bmkr/0213)


No comments:

Post a Comment