January 18, 2013

Lelaki : Impian Bocah

photo by @boimakar
Disekolah dasar, seorang guru perempuan, berdiri dengan anggun, memegang penggaris kayu berwarna cokelat muda. Berbaju safari yang licin sekali. Nampaknya, bekas distrika dengan sangat teliti. Bukan oleh dia sendiri, pastinya, karena saya yakin, bahwa dia tidak bisa menyetrika dengan sebaik itu. Produk instan masa kini yang nampaknya, sangat kentara. Pembantunya, atau malah laundry service yang berongkos sangat mahal. Dari penampilannya, dia memang bukan guru yang biasa-biasa saja, bukan dari golongan Umar Bakrie. Mungkin dari golongan yang lain.

Bertanya dia, sang guru perempuan itu, -kenapa setiap guru harus disebut "sang" dan saya menghapus kata "si" di depan tadi? Mungkin karena alasan estetika kita yang kental sekali. Tentang cita-cita kepada murid-murid kelas empat. Hendak jadi apa kelak, jika sudah besar nanti. 

Antusias, murid-murid itu menjadi gaduh. Suara tawa dan gumam dibarengi dengan pukulan penggaris kayu ke meja. Suara lantang sang guru perempuan, membungkam kegaduhan sementara. Satu-satu, murid kelas empat itu menyebutkan impian mereka ketika dewasa. Jawabanya, standar saja, seperti sudah diduga memang sebelumnya. Dokter, tentara, polisi, pejabat, presiden, menteri, wartawan, guru. Dan masih ada beberapa yang lain. Semuanya, merupakan gambaran kemapanan dimata anak-anak polos beranjak dewasa itu.

Namun, seorang murid menjawab dengan sangat mengagumkan. Saya ingin menjadi diri saya saja. Tidak mau manjadi yang lain. Sang guru perempuan penasaran, apa dia tidak mau jadi seperti yang lainnnya. Dan si murid kekeuh menjawab tidak mau. Dalam mata polosnya, semua profesi itu, tidak murni menjadi dirinya sendiri. Semua profesi itu hanya kedok memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan kesenangan pribadi. Guru, mendapatkan uang dengan mengajar, dan kadang tidak ikhlas, polisi lebih parah lagi, apalagi pejabat.

Dari mata si bocah, dia suka menjadi anak-anak. Meski dari keluarga yang tidak mapan, tapi semuanya berbanjir kasih sayang. Dia main, ketika dia mau main. Tidur ketika dia ngantuk kapanpun. Dan dia bisa bernyanyi sesuka hati diramahnya tanpa ada orang berteriak membentak untuk minta dia berhenti menyanyi dengan paksa.

" Kamu tidak mau punya uang banyak? Tidak mau punya rumah dan mobil mewah?" kata guru perempuan tadi dengan antusias.

Si bocah tersenyum dan menjawab lugu. " uang memang bisa membeli apapun. Tapi kebahagiaan itu datangnya dari hati, bukan? Kalau hatinya aja udah nggak bahagia, mana bisa kita senang dengan semua kemewahan dan uang kita.." katanya.

Lebih banyak lagi, dia bercerita tentang berita-berita koran, ketika banyak pejabat yang korupsi, menghabis kan uang yang bukan haknya. " apa uang mereka masih tidak cukup, sehingga harus mengambil uang orang lain?" katanya. Dan ketika dia membaca tentang perseteruan dua orang karena berebut harta warisan hingga masuk ke pengadilan karena saling serang, hampir membunuh, " apakah orang sudah tidak ingat dengan saudaranya, hingga hartanya lebih penting dari semua yang sudah dia punya?"

Sang guru perempuan, masih tidak percaya. Dia masih menganggap si bocah tidak betul.  Masih menganggap sibocah ini aneh.

" Apakah baju yang ibu pakai ini, dibeli dengan uang halal? Bukan hasil korupsi atau menipu? " katanya terakhir kali. (bmkr/0113)

No comments:

Post a Comment