June 21, 2012

Lelaki : Matahari & Harapan

http://saveimages.taoindonesia.info/2012/03/eagle-5.jpg
Untuk sebagian orang, punya mimpi adalah sebuah kemewahan. Bahkan, sebuah buku paling laris di negeri ini, mengajarkan untuk membentuk mimpi. Melihat dari sudut paling absurd tentang kehidupan yang nampak begitu mulus. Kemudian loncat dari gedung tinggi, melebarkan sayap, berharap jadi rajawali, dan bumm.. telak menghantam tanah.

Ketika melihat matahari, terpikir untuk bermimpi pun tidak. Ia begitu perkasa. Membakar dengan kadar yang sudah diperhitungkan, sehingga kecil kemungkinan membunuh. Meski. kita hidup dialam khatulistiwa yang berlimpah ruah cahaya matahari. Matahari. memang tidak pernah salah memberi rejeki kepada siapapun. Panasnya tak pernah dibagi tidak adil. Seluruh alam raya kebagian jatah. Sedikit banyak.

Dan untuk menjumpai matahari, tak perlu mengharap terlalu dalam. Toh, dinegara kita, dua belas jam dalam gelap bukan waktu yang lama.

Teringat ketika seorang tokoh Indonesia, mengatakan, " yang miskin jangan melawan yang kaya, yang kaya jangan melawan pejabat, semuanya hancur".

Seperi guyonan, namun, saya rasa itu lebih realistis. Ketimbang membaca buku-buku motivasi dari seorang lelaki dengan kemampuan intelektual tinggi, yang menulis buku pernah bekerja di Amerika, dengan perantara angkot bapaknya. Yang diperlukan bukan cuman bacaan. Contoh orang.

Tiap manusia terlahir dalam kemampuan sempurna. Memecahkan persoalan dengan kemampuan sangat menakjubkan. Namun, tentu saja beda caranya. Diantara kita, tentu saja banyak yang menganggap apa yang ada ditiap buku itu adalah kitab suci. Sehingga itulah yang harus dilakukan. Dan hanya dengan jalan itulah sukses itu berjalan.

http://www.petracenter.or.id/wp-content/uploads/20110503_eagle.jpg 
Ikhlas. Beberapa hari ini, kata itu kerap saya dengar. Baik sebagai gurauan, karena seorang kawan membiarkan sang incaran mencintai orang yang lain. Atau dalam arti sesungguhnya. Ketika menerima hasil yang sudah dikerjakan secara maksimal itu, kemudian dengan lapang dada. Perasaan menerima, dan berhenti berharap itu, akan melegakan siapapun. Pengharapan yang terlalu tinggi akan keinginan-keinginan juga merupakan racun dalam kehidupan.

Keinginanan, adalah sumber penderitaan. Tempatnya, didalam pikiran. Kata Iwan Fals. (bmkr/0612)

No comments:

Post a Comment