February 15, 2012

Lelaki : Pada Sebuah Batu Belah


Gugup, saya membaca surat itu berulang-ulang. Bayangan mengalir mondar-mandir pada peristiwa beberapa tahun lalu. Seakan masih berasa perih, bekas gores perdu-perdu ditangan. Seperti masih berasa sakit, lecet di jari kaki dan tumit karena sepatu basah dan kaus kaki lembab yang masih terus dipakai.  

To: Seorang Kawan kawanmu@email.com

Date: Mon, 09 Jan 2012 23:40:30 -0800

Subject: Re : Serpihan Kertas di Bebatuan

 

Hallow Jagoan!

Apa kabar kau? Meski saya tidak ingat betul peristiwa yang kau ceritakan pertama, tentang melarung tulisan-tulisan kita di sungai berbatu itu, tapi, saya sungguh tidak akan pernah lupa kepada peristiwa kebun karet dan jalan kereta.

Malu betul rasanya, ketika itu. Saya menangis, dan kau ejek saja seperti mengejek seorang anak SD yang kalah berantem dari temannya memperebutkan mainan. Haha.. rasanya, perih kaki karena lecet masih terasa waktu saya baca emailmu.

Dimana kau sekarang? 

Mengapa tidak perah ada kabar darimu? Saya pikir kau sudah mati dibelahan bumi yang tidak bisa diketemukan orang ..

Salam

Pengembara

Begitulah. Setelah surat balasan saya, kami berkomunikasi lagi. Bagaimana dia hidup sebagai petani di sebuah desa di belahan bumi Jawa Timur. Membangun rumah tangga sederhana dengan seorang anak laki-laki bernama Elang Kembara. Dia meninggalkan dunia kota yang penuh dengan keserakahan dan hiruk pikuk dan memilih menjadi petani. 

Kami, bersahabat dari sejak sekolah menengah atas. Beda sekolah memang. Namun, hobby mempertemukan kami dalam sebuah kegiatan. Kami, sama-sama ikut dalam sebuah lomba kecakapan pelajaran. Dia bercerita tentang hobbynya, disela waktu rehat siang. Waktu itu, sahabat saya itu, sudah menjadi penggiat alam, dia sudah "manjat". Saya, masih senang-senangnya, ngelayab dari curug ke curug, pantai ke pantai, dan kemping dari satu tempat ke tempat lain. Dia mengenalkan saya kepada panjat-memanjat. Mengajari saya tentang tali temali. Mengundang saya, dalam latihan rutinnya setiap sabtu pagi di halaman sekolahnya. 

Menjadi sahabat karib, kami sering bepergian bersama. Hingga pada peristiwa kebun karet kolonial itu. Melakukan aktifitas bersama. Kadang, pergi di jam pelajaran, hanya untuk nonton kompetisi panjat atau sekedar ingin melihat matahari tenggelam di sebuah tempat kami biasa "nongkrong". Di sebuah batu belah diketinggian itu.

Hingga, pada beberapa tahun setelah kelulusan, saya kehilangan kontak dari sahabat saya itu. Kabar darinya, terakhir dia kerumah dan menitipkan salam karena mendapat pekerjaan diluar kota di Jawa Timur. Sejak itu, kami terpisah. Dan Surat itu membangkitkan kenangan ku akan sosoknya yang tegar dan tidak pernah menyerah pada apapun. Bahkan, ketika suatu kali, dia hampir babak belur adu jotos dengan seorang sopir angkot di Sukabumi karena dengan sengaja mencolek seorang perempuan yang akan naik angkotnya, sampai perempuan itu menjerit.

Kawan, selamat datang. Berceritalah, kepada saya. Lama betul kita tak bercengkrama. (bmkr/0212)

bersambung 

pic.. special

No comments:

Post a Comment