January 19, 2012

Lelaki : Pada Sebuah Rel Kereta Tua

Sebuah surat elektronik mampir di inbox saya, beberapa waktu yang lalu. Sebuah nama asing, muncul sebagai pengirimnya. Dengan subjek yang sangat memuat saya bertanya, apa benar surat ini ditujukan buat saya. Sedang, saya tak pernah tau, siapa pengirim surat elektronik itu. Penasaran, akhirnya saya buka juga.

From: Seorang Kawan <kawanmu@email.com
Date: Mon, 09 Jan 2012 21:12:30 -0800
To: akulelaki@email.com
Subject: Serpihan Kertas di Bebatuan

Dear Pengembara

Bagaimana dia tau nama saya? Saya tidak pernah mengenal alamat email itu.

Pernahkah terpikir oleh mu untuk pergi jauh mengembara? Melintasi banyak benua, singgah dibanyak negara, dan menorehkan catatan pada tiap tempat yang kau kunjungi. Kemudian mengabarkannya kepada dunia. Bahwa kehidupan itu masih ada. Bahwa, kerahamtamahan itu masih ada. Bahwa, biru langit dan hijau nya gunung serta pesawahan masih bukan hanya cerita?

Pengembara,
kau tau, kita pernah bertemu. Mungkin kau yang lupa siapa aku. Namun aku, tak akan pernah lupa. Kita pernah punya mimpi bersama. Menuliskan kata-kata, dan harapan kita pada selembar kertas putih, kau menulisnya lebih dari dua paragraf, ketika itu, kemudian menyobeknya kecil-kecil dan melarungnya dalam deras sungai diantara hijau pesawahan. Kau berteriak nyaring, yang mengejutkan burung-burung pemakan padi, hingga mereka beterbangan dalam gerombol besar, meliuk-liuk serupa dengan awan.

" Jika sampai kelaut nanti, katakan pada karang dan ikan pari, aku merindu mereka" itu katamau dulu, Keras. Keras betul kau berteriak kala itu. Ingat??

Aku tertawa terbahak melihat mu yang semangat betul, berteriak kepada serpihan kertas-kertas kecil yang semakin menjauh mengikuti arus air. Dan ketika beberapa diantaranya, tersangkut dibatuan, kau masih tetap berteriak, " dan kau yang sudah menemukan pilihanmu, berbahagialah. Ujung sana belum tentu semenyenangkan batu yang kau tempeli"..

Ingat??

Saya termenung. Mencoba mengingat ingat, kejadian itu. Namun, masih belum bisa menemukan peristiwa penting itu dalam tumpukan memori otak yang sudah terisi lebih dari tiga puluh tahun. Seperti buku sejarah, yang kemudian diceritakan kembali, dan si perapal tak pernah tahu betul, kejadian yang sebenarnya. Siapa kau? Dimana saya ketika itu?

Pengembara,
Jangan bingung. Mungkin kau sekarang bertanya-tanya tentang siapa aku sebenarnya. Atau, bertanya-tanya, kapan peristiwa yang aku ceritakan diatas terjadi. Baiklah, aku akan menceritakan kepadamu, tentang sebuah telur asin dan sebutir anggur, yang hampir tak bisa kita nikmati ketika itu.

Jalanan berbatu kapur. Hutan karet peninggalan kolonial Belanda yang terlihat sepi dan angker. Kita nyaris tak berkata sepatahpun. Bukan karena kita memang tak punya bahan bicara, tapi katamu, kita harus fokus. Takut perampok. Takut jebakan kolonial masih terpasang, takut ranjau jaman penjajahan masih aktif, dan masih banyak lagi. Namun, aku tau. Kita sama-sama takut hari itu. Jalanan itu, berujung pada sebuah rel kereta tua. Kekanan dan kekiri, terlihat sama jauhnya. Kita memutuskan ke kanan, karena, katamu, kanan selalu membawa kebaikan.

Rel kereta membentuk perspektif dari pandangan kita. Lebatnya hutan karet, membuat kita hanya melihat cahaya putih dikejauhan. Seperti mulut goa. Atau benarkah kita memang sedang berada dalam goa. Yang pasti, kita sama-sama takut.

Dan pada saat kaki benar-benar tak bisa digerakkan karena letih menyusur jalan kereta yang seolah tak berujung, kita memutuskan berhenti. Dalam ransel, hanya ada sebungkus nasi, separuh botol air minum, sebutir telur asin, dan sebutir anggur. Kita menatap bekal kita dengan nanar. Namun, masing-masing dari kita seperti tak mau memulai memakannya. Kau menyuruh aku makan duluan. Dan aku memintamu, makan duluan. Kita terbahak, kemudian memakan nasi itu bersama. Membelah telur asin menjadi dua. Kemudian membelah sebutir anggur menjadi dua juga. Dan ketika milikmu ternyata jatuh ketanah becek, hingga tak mungkin untuk dimakan, aku bersikeras untuk membagi anggur ku kepadamu.

Ingat??

Aku merindumu, seperti aku merindu hutan karet dan jalan kereta yang seperti tanpa ujung ketika itu.

(masihkah aku) sahabatmu?
dari jauh.

bersambung
(bmkr/0112)
image : http://www.layoutsparks.com/1/152040/train-tracks-love-rail.html

No comments:

Post a Comment