July 18, 2011

Lelaki : Dan Krakatoa..


Ubur-Ubur, Brownies dan Krakatoa.

Kenapa saya harus pergi kesana? Bukankah masih banyak tempat lain yang lebih menarik, lebih aman dan lebih bersahabat untuk dikunjungi?

Begitulah. Berkali-kali pertanyaan-pertanyaan itu terbesit, ketika perjalanan ini baru akan dimulai. Berulang-ulang saya mencari informasi tentang lokasi ini lewat internet, membaca kembali buku Simon Winchester berjudul Krakatoa, sampai kemudian memutuskan berangkat dan meminjam snorkel dan google dari om Timmy. Saya siap. Mari berangkat.

Pelabuhan Canti di Kalianda, Lampung Timur.
Pagi ini, kami serombongan menginjakkan kaki di dermaga kecil Canti. Hamparan langit kelabu dan air jernih seluas-luasnya terhampar di depan mata. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta dengan bus AC yang terlalu dingin, udara disini cukup bersahabat. Satu persatu kawan-kawan satu rombongan berjumlah 30 orang itu, mempersiapkan diri. Keriuhan terjadi diwarung-warung makan yang menawarkan makan pagi buat kami. Cukup Enam Ribu Rupiah saja makan pagi saya, dengan tempe goreng, telur dadar dan sedikit sayur ditambah teh hangat pahit. Sedap betul rasanya. Lapar yang menyerang sepanjang perjalanan, lenyap sudah.

Pelabuhan canti sendiri, memang bukan pelabuhan umum untuk menyebrang ke pulau-pulau lain di Lampung Selatan. Dari sini, Gunung Rajabasa megah membumbung di selimuti kabut tipis. Seolah menembus langit yang dipenuhi cumulus. Disini, cuma ada sebuah dermaga usang yang sekilas hampir roboh diterjang ombak. Sebuah mushola berwarna hijau toska, kontras terlihat diantara bangunan disekelilingnya yang bercat lebih gelap.

Tidakkah pernah kamu merasa
Bahawa laut tak pernah membenci siapapun
Dia tenang setenang pertapa
Penuh misteri seperti juga malam hari
Tapi tidak ada setitikpun gurat benci didirinya


Kapal kayu kecil kami, melaju pelan meninggalkan tanah Lampung. Menerjang ombak yang berlapis-lapis, susul menyusul menuju pantai. Seperti tidak pernah letih menuju daratan. Dikejauhan, gunung Rajabasa tampak perkasa. Mempertontonkan gurat-gurat berkelok-kelok meluncur ke bawah. Awan-awan tipis nakal menggoda puncaknya yang semakin hilang ditelan putihnya.
Deru mesin kapal membungkam suara kami semua. Hingga hanya ada mata saja yang merekam semua kejadian. Beberapa kali burung-burung camar berkelebat diudara. Bayangan pulau-pulau dikejauhan membentuk gradasi abu-abu diantara kelabu langit dan biru nya air lautan.

Saya duduk diburitan depan kapal. Memandang bebas kedepan, menyaksikan besarnya ombak yang siang ini mengombang ambing kapal kayu kami. Dari arah depan, beberapa kapal lain berpenumpang super penuh melaju menuju Lampung. Entahlah, tak ada yang memakai rompi pelampung atau alat keselamatan lain. Semua nampak biasa saja. Dikapal lain, beberapa sepeda motor nangkring manis diatas.
Menyaksikan itu, saya teringat perjalanan ke Pulau Perak, Kepulauan Seribu, Jakarta beberapa waktu yang lalu. Betapa kapal kami di stop dan di kembalikan ke pelabuhan muara angke karena dianggap terlalu penuh oleh petugas, kemudian kapal kami dipecah penumpangnya, diwajibkan memakai jaket pelampung. Disini, berbeda sekali ternyata keadaannya. Sedang dari pengamatan saya, ombak disini jauh lebih kejam dari pada di kepulauan seribu.

Hari ini, selat sunda begitu perkasa sekaligus anggun mempesona. Bayangan pulau-pulau yang memantul diair laut seperti pualam gelap nan elok.

Kapal merapat di sebuah pulau kecil tanpa penghuni. Hanya ada beberapa nelayan yang juga singgah dipulau ini. Sebuku kecil namanya. Pulau dengan garis pantai yang berpasir putih dan disisi oleh pecahan karang-karang putih, menampilkan panorama yang mempesona. Sontak, semua dari kami berhamburan mengejar garis pantai. Pasang aksi mengabadikan keelokan laut biru dengan background hijau nya pepohonan di sebuku besar.

Kapal kembali berlayar. Kibaran merah putih di tiang depannya, bergelombang dipermainkan angin siang yang panas. Yah, udara memang sangat panas siang ini. Namun bukan berarti kami harus buru-buru menuju home stay kami di Sebesi. Kami masih akan bercanda dengan ubur-ubur yang lincah menari-nari dibiru air. Di spot pertama snorkeling ini, saya masih berusaha beradaptasi. Kaget setengah mati ketika seekor ubur-ubur besar menghampiri, namun kemudian refleks membuka mulut menyaksikan segerombolan ikan kecil warna-warni yang memenuhi air, diantara karang-karang kecolkatan. Entah, berapa banyak air laut yang terminum. Tapi biarlah. Toh pengalaman akan selalu berharga untuk dikenang.

Pulau itu, Sebesi namanya. Papan selamat datang berbahasa Inggris “ Welcome to Sebesi Island” bisa dilihat dari jauh. Dibelakang sana, sebuah gunung menjulang menembus awan. Hamparan pantai berpasir putih dinaungi nyiur yang gembira menyambut kedatangan kapal kami. Satu persatu kami berlompatan, menuju dermaga kecil itu. Menapaki beton yang hanya berjarak kurang dari seratus meter menuju daratan. Beberapa bocah meloncat-loncat girang, menceburkan diri kedalam air di dermaga kecil.

Pulau ini, berpenghuni lebih dari seribu lima ratus kepala. Tersebar diseluruh pelosok pulau. Saya sempat bercakap dengan seorang pemuda yang kebetulan ditugasi orang tuanya untuk mengantar kami mandi di sebuah masjid besar. Seperti masjid agung kalau di jawa. Dengan lapangan sepak bola yang memang dipakai oleh seluruh warga pulau sebesi, jelas ini alun-alun pulau ini.

“ Listrik disini payah, Mas,” katanya memulai percakapan kami malam itu setelah mandi, dan menunggu teman-teman yang sekalian sholat isya di masjid raya. Saya dan Kelvin, seorang teman baru dari Amerika, duduk dipinggir jalan sambil bercakap-cakap santai.
“ Payah gimana?” saya penasaran.
“ Iya. Disini listrik hanya setengah hari saja. Listrik disini nyala hanya 12 jam sehari. Itupun digilir siang dan malam. Sisanya kami mengandalkan diesel untuk membangkitkan tenaga listrik.” Ceritanya panjang lebar.
“ Apa pemerintah lampung belum pernah kesini, Wan? Ya ..minimal yang baru-baru ini deh?” saya semakin antusias.
“ Sering, Mas.” Jawabnya tegas, “ Bapak Bupati pernah kesini belum lama ini. Dia pakai perahu kesini. Kalau pak Gubernur, waktu itu, dating dengan helicopter dan disitu mendaratnya,” katanya menunjuk lapangan bola yang malam itu nampak hanya seperti jelaga malam yang remang-remang dalam lampu pijar disana-sini.

Dari Iwan pula, saya mendapat informasi, bahwa tahun 2011 ini, jalan-jalan di Sebesi akan diperbaiki.
Masyarakat Sebesi, hidup dari pertanian dan perikanan. Mereka menanam pisang, kakao, padi, dan memanfaatkan tuak kelapa untuk membuat gula. Disini, hanya ada dua mobil, kata Iwan, dan itu digunakan untuk pengangkutan dan lain-lain. Pantas saja, ketika disini, kami tidak menjumpai satu mobil pun. Hanya ada sepeda motor dan becak.

Home stay kami menghadap langsung ke laut biru. Dibatasi pekarangan selebar seratus meter saja, bibir pantai membentang dihadapan mata. Angin nya bertiup kencang ketika kami tiba di home stay. Makan siang tersedia dipendopo, dibagi dalam beberapa meja, layaknya prasmanan resepsi pernikahan lengkap dengan air kemasan gelas, pisang yang digantung ditiang penyangga pendopo dan kursi-kursi plastik berwarna hijau berbaris rapi. Jangan lupa menikmati air kelapa segar dari kelapa yang baru saja dipetik. Cukup dengan tiga ribu rupiah saja, dan penat sepanjang perjalanan bergeser menjadi semangat baru dan keceriaan baru.

15 menit dari dermaga Sebesi, ada sebuah pulau karang kecil berana Umang-umang. Entah kenapa namanya demikian, namun target snorkelan kami berikutnya adalah disini. Pulau ini tampak elok dari jauh. Berbeda dengan pulau lain yang dikepung pasir putih, disini, justru dikepung coral dan hanya sebagian saja yang berpasir sangat putih. Menurut bapak penjaga home stay, dipulau ini, ada mata air untuk obat. Siapa yang meminumnya, bisa terbebas dari berbagai penyakit. Dan konon, menurut riwayat, dulu pernah tinggal seorang putri cantik dengan anaknya dipulau ini.

Lupakan tentang putrid cantik masa lalu dan air mujarabnya. Mari menjelajah dunia bawah air di bibir pantai pulau Umang-Umang. Yang pertama kali terlihat adalah ubur-ubur sebesar talapak tangan berwarna pink ke unguan mengapung bebas dan lincah dimainkan ombak. Wow…

Satu-satu rombongan nyempung dalam air. Menikmati aneka warna ikan-ikan kecil dan besar menari-nari dalam air. Hey, itu si clown fish. Warnanya cerah orange, malu-malu mengintip dari balik anemon yang pasrah diombang-ambing arus dasar yang lumayan deras. Disini arus memang selalu kuat. Setidaknya, begitu kesimpulan saya. Kemudian, pandangan mata dimanjakan oleh karang-karang cantik warna warni. Membentang luas. Entah berapa kali si ubur-ubur lewat mondar mandir di depan mata.
Karang disini, memang tidak semuanya terawat. Yang hancur pun banyak. Bahkan disatu titik, saya sama sekali tidak menemukan karang yang hidup utuh. Semuanya hancur. Ah, ulah manusia atau ganasnya laut.
Saya masih belum mengerti.

Puas bercumbu dengan karang dan ikan-ikan kecil yang lincah, kami merapat disisi lain Sebesi. Niatnya untuk menikmati sunset. Tapi ternyata spot nya tidak cocok, jadilah kami menikmati pantai berpasir putih itu dengan aksi cebur-ceburan dan loncat-loncatan narsis photo.

Ombak selat sunda pagi itu mengamuk dahsyat.
Remang pagi belum lagi berganti terang, tapi kesibukan di home stay kami sudah mulai hiriuk pikuk. Ini baru jam empat pagi. Saya membangunkan Kelvin yang masih terbuai alam mimpi, letih mengarungi perjalanan dan bermain gitar hingga tengah malam, atau memang menyukai suasananya. Sementara diluar kamar kami, yang lain sudah sibuk hilir mudik.

Home stay kami, menghadap ke laut lepas. Ada tiga rumah dengan dua pintu yang disewa oleh rombongan ini. Masing-masing berkapasitas 7-10 orang. Jangan takut berdengsakan. Ada tiga tempat tidur dengan kapasitas masing-masing empat, tiga dan tiga orang perkamar. Kamar mandinya ada satu. Meskipun airnya kecil dan beberapa kali mati.

Lupakan mandi pagi, lupakan sarapan. Segelas air putih dan beberapa keping biskuit masuk dalam tenggorokan dengan lancar sebagai pengganti sarapan kami disepagi ini. Kami harus begegas.
Bayangan pulau Sebesi dari tengah lautan Selat Sunda, mengabur sedikit demi sedikit. Lampu-lampu rumah kian meredup. Ombak bukan main besarnya. Di dermaga ketika naik, sang empunya kapal, berkali-kali mengingatkan kami untuk memakai rompi pelampung. Dari mulai duduk dikapal, rompi itu sudah terikat pas di badan saya. Warnanya yang oranye terang, kontras memantul digelap pagi ini.

Setengah jam perjalanan, kapal benar-benar diguncang ombak besar. Air laut tidak hanya memercik, tapi lebih seperti siraman dengan ember. Saya yang tadinya duduk di dok depan, naik keatas untuk sekedar menghindari basah. Meskipun pada kenyataanya, air masih tetap membasahi kami yang duduk diatas. Heni yang duduk disebelah saya hampir kuyup. Saya sudah duluan basah. Bang Faried, terpaksa harus masuk kedalam badan kapal karena tak bisa menghindari tas kamera yang dia bawa ikut kecipratan air. Namun kemudian ia keluar lagi setelah berhasil membungkus semua “peralatan tempur”nya dengan plastik.

Satu meter. Dua meter. Entah lah. Yang pasti, kapal benar-benar sempoyongan. Berkali-kali mesin sengaja di matikan atau dikurangi kecepatannya. Mungkin pak nahkoda takut, kapalnya tak mampu melawan ganas air yang semakin menjadi. Langit masih mendung. Matahari yang seharusnya sudah benderang di pukul setengah enam, ogah-ogahan mengintip dari balik awan. Sinarnya perak. Menciptakan pantulan putih diair yang menghitam oleh malam.

Saya teringat tokoh tua dalam bukunya Ernest Hemingway yang sangat terkenal, The Old Man and The Sea. Lelaki itu mengarungi laut sendirian, mencari ikan. Mencari penghidupan sebagai nelayan, diusia renta. Ketika kemudian pergulatan nya yang panjang dan melelahkan dengan seekor ikan raksaksa, membuatnya hampir putus asa dan menyerah, namun ia berteriak, saya kuat, saya kuat. Saya adalah pelaut.

Bagaimana rasanya menjadi pak tua itu. Sementara saya yang duduk dikapal besar, tanpa harus mengembudikannya. Hanya duduk manis menikmati panorama, tetap gemetar merasakan kapal yang dihempas dalam kemudian seperti berada diujung buih ombak.
Sebesi semakin samar. Dalam temaram dikejauhan, samar muncul bayangan hitam yang makin lama kian jelas terlihat. Kemudian, semakin nyata. Gunung Anak Krakatau menyembul diantara lautan luas, diapit oleh 2 pulau lain. Dari arah sini, Pulau Rakata Besar mempertontonkan puncak gunungnya yang terutup awan. Hijau seolah tidak terjamah. Kontras dengan coklat kehitaman dari Anak Krakatau.

Dan boom. Asap pekat debu vulkanik, membumbung ke angkasa. Menembus remang langit dan awan putih yang terjebak di kelabunya debu uap panas. Dari jarak ini saja, besar betul kelihatannya letusan itu. Kapal kami belum lagi merapat. Namun letusan itu menjadi panorama menawan sekaligus mengerikan terlihat dikejauhan.

Bayangan saya melayang kembali ke buku Krakatoa karangan Simon Winchester. Betapa dahsyat letusan yang terjadi ketika itu, waktu seolah berhenti berdetak. Langit tertutup awan gelap hampir seluruh dunia. Iklim berubah. Puluhan ribu orang mati di tanah pertiwi. Gunung Krakatau yang seperti monster, meletus dan membelah menjadi tiga pulau sekarang. Dan ketika perahu kami mencapai pasir hitam basah dipantai Anak Krakatau, terbayang berapa besar gunung itu sebelum meletus. Dan terbayang betapa dahsyat ia mengguncang dunia dan mengakibatkan kerusakan alam pada.

Letusan Krakatau yang terjadi 26-27 Agustus 1883, konon terdengar hingga dibelahan bumi Afrika, 4.653 kilo meter dari letak Krakatau. Dan daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang meledak di Hirosima & Nagasaki pada perang dunia kedua. Letusan ini memang masih kalah disbanding letusan Gunung Toba di Sumatera, namun letusannya jauh sebelum populasi manusia dibumi meledak. Akibat letusan itu, Krakatau hancur dan menciptakan kaldera besar diselat sunda. Sisi-sisi kawahnya dikenal dengan nama Pulau Rakata, Pulau Panjang ( Rakata Kecil) dan Pulau Sertung. Menurut Winchester pula, Anak Krakatau yang sampai saat ini masih tertidur dan hanya batuk-batuk kecil itu, suatu hari akan kembali meletus. Namun tidak seorang pun tahu pasti, kapan peristiwa itu akan terjadi. Gunung Anak Krakatau yang saat ini mencapai 230 mdpl memang jauh lebih pendek dari Gunung Krakatau Purba yang mencapai 813 mdpl sebelum letusan pada 1883. (wikipedia)

Dipintu masuk, kami disambut oleh beberapa petugas yang tanpa bosan mengingatkan kami untuk tidak terlalu jauh mendekat ke kawah. Pengunjung sudah ramai.

Memasuki kawasan CagarAlam Krakatau, kita seperti dibawa kealam lain dunia ini. Pohon-pohon hijau Nampak muram. Debu menempel disekujur batang dan daun. Tanah yang kita injak adalah pasir dan debu vulkanik berwarna hitam. Pepohonan patah disana-sini menghalangi jalanan. Daun-daun pinus dan cemara seperti meradang terbakar.

“ Jangan terlalu dekat! Berbahaya!” demikian teriak serorang petugas Jagawana yang hari ini sengaja keluar dari posnya dibibir pantai, berbaur dengan pengunjung yang kadang-kadang iseng dan sok tau, hendak naik terus hingga keatas.
Pak Amir, Jagawana Krakatau mengatakan, seharusnya pengunjung hanya boleh sampai patok 2, atau hanya dibatas vegetasi tempat cemara terakhir tumbuh. Tapi hari itu, kami diperolehkan agak naik ke atas hingga patok 4. Sangat berbahaya disini, imbuh beliau lagi. Lelaki berbadan kekar, berkulit legam, yang hari itu mengenakan celana pendek dan kaos hijau lumutnya, melarang siapapun yang diam-diam menerobos keatas dengan tegas. “ Kami tidak mau terjadi apa-apa dengan pengunjung, makanya kami tegas melarang’” lanjutnya.

Seperinya, Pak Amir memang tidak main-main. Beberapa detik setelah dia selesai bicara, sebuah letusan hebat terjadi. Jutaan kubik material terlontar keudara dengan cepat. Debu berhamburan kemana-mana. Dan batuan yang beberapa sebesar kepala manusia, terbang bebas keangkasa dan meluncur turun dengan liar. Menghantam apapun tanpa kenal ampun. Jangan tanya apa rasanya, jangan tanya berapa panasnya. Kami yang dibawah terkesima. Beberapa pengunjung yang berada ditempat paling atas, berlarian turun.
Pasir Krakatau, menempel disepatu saya yang basah oleh air laut. Berkali-kali kaki terperosok dan dengan susah payah meniti keatas. Dari sini, jarak lontaran apabila terjadi ketusan masih aman.

Dari pak Amir, saya dikenalkan dengan seorang Traveler berkebangsaan Swiss yang sendirian menyururi asia. Dari Kamboja, Laos, Thailand hingga ke Indonesia. Krakatoa adalah tujuan terakhirnya di Indonesia, setelah sebelumnya dia berkeliling hingga ke pedalaman tanah Borneo. Lelaki ramah itu, bercerita kalau tadi malam, dia menyaksikan letusan dahsyat Krakatoa dengan pijar laharnya yang mempesona. Dengan kapal nya, dia berkeliling pulau mencari spot yang pas untuk memotret letusan itu. Namun, setelah lebih dari satu setengah jam melawan dingin lautan dan ombak mengombang-ambing kapalnya, dia pasrah. Karena letusan kedua tidak terjadi lagi. “ I was not so lucky. But I saw that. So I only can write it without picture. That’s ok.” Katanya menghibur diri.

Puas berphoto, kami turun ke pos jaga dan makan pagi. Seekor biawak mendekat malu-malu dari balik semak yang terbungkus debu. Hey. Bagaimana dia bisa selamat dari kejamnya alam Krakatoa? Dan si biawak, adalah penghuni pulau ini satu-satunya yang menetap, kata rekan pak Amir.

Lokasi terakhir yang akan kami kunjungi adalah sebuah snorkel spot beranama Legon Cabe. Konon, lokasi ini salah satu tempat terbaik untuk snorkel yang ada di Krakatoa.

Ombak sudah tidak sekejam tadi pagi. Matahari bersinar tanpa malu-malu lagi. Menyebarkan rejeki melalui panas yang sampai kebumi.

Legon cabe, berada disatu sisi pulau Rakata Besar. Gunung Rakata, yang merupakan pecahan dari gunung Krakatau Purba, meruncing menembus awan. Lautan tenang. Hutan pulau ini menghijau dan penuh misteri. Kabut-kabut tipis melayang ringan diatas tajuk-tajuk pohon. Sementara burung-burung bersayap lebar terbang rendah diatasnya. Pemandangan yang langka betul buat saya. Kapal bergerak perlahan meninggalkan Gunung Anak Krakatau yang masih menyemburkan uap dan debu panasnya ke udara berkali-kali. Intervalnya tidak merata, kadang tiga menit sekali, kadang lima menit sekali, atau lebih lambat lagi. Debu yang membumbung keangkasa membentuk mahluk-mahluk imajiner yang terkadang terlalu aneh untuk dijabarkan dengan kata-kata.

Kapal berhenti perlahan. Dan byuuurr. Saya meloncat dibelakang kapal. Mengenakan snorkel dan fin pinjaman dari bang Timmy, saya mengambang dengan pelampung berwarna oranye yang kontras dengan biru laut.

Wajah terbenam dalam air. Ujung snorkel menyembul ke permukaan laut, dan mulut menarik udara segar untuk bernafas. Kaki mengayuh pelan-pelan dan hamparan coral membentang sejauh mata memandang. Cantik betul. Ini adalah tempat terbaik dari lokasi snorkel kami sejak kemarin. Puluhan ikan warna-warni lincah bermain di arus laut yang cukup bersahabat. Karang-karang bulat seperti meja, anemon-anemon dengan ikan badutnya yang lucu. Scorpion fish dan yang paling menakjubkan adalah ular laut. Saya melihatnya. Meski takut, saya terus melihatnya menjauh dari lokasi saya mengapung. Ketika kembali ke kapal untuk minum, saya berteriak ke Uchit, seperti anak norak yang baru dapat mainan, “ saya melihat Laticauda laticauda. Sungguh saya melihatnya,” kata saya. Dan semua orang bertanya, apa itu. Saya dan Uchit tertawa bersamaan. Sengaja memakai nama latin, agar tidak menimbulkan kepanikan.

Disudut lain, sebatang kayu tenggelam menyajikan pemandangan berbeda buat saya. Akar-akarnya masih lumayan utuh. Dan dia membentang seperti jembatan di sebuah palung laut. Seekor ikan terompet bergaya diatasnya.

Saya terpesona oleh laut dan isinya. Saya membiarkan mata saya membuka tanpa pernah mau terpejam. Air asin yang beberapa kali masuk lewat lubang udara, saya telan.

Krakatoa, menyimpan sejuta misteri dalam benak saya yang tidak bisa terurai secara nyata. Ia seperti mimpi buruk ketika meletus dulu, namun seperti magnet yang menarik orang-orang untuk terus menapak dipasir hitam nya, mengabadikan letusan dalam lensa kamera dan vidio nya.
Namun dibalik semua kerusakan yang pernah ditimbulkannya, dia adalah sebuah tempat yang layak didatangi. Perjalanan panjang dari Jakarta, mengorbankan waktu tidur, dan bergelut dikemacetan, seperti tidak pernah terjadi. Semua hilang dalam pesona Legon Cabe yang menyajikan pemandangan laut yang mengagumkan. Seperti sirna oleh cantiknya Sebuku Kecil yang berpasir putih dan berair jernih. Dahaga yang menyerang diperjalanan, lenyap oleh sagar air kelapa di Sebesi yang hanya tiga ribu rupiah saja.

Penutup
Kenapa Ubur-Ubur, Brownies dan Krakatoa.
Saya tak habis pikir, apa yang akan terjadi pada diri saya apabila tersengat ubur-ubur. Kata orang, rasanya seperti terbakar. Perih, panas, sakit. Dan ada juga yang bilang, bisa sembuh dalam beberapa hari.

Hal yang paling lajim ditemui sepanjang jalan dari Lampung ke Sebesi, adalah ubur-ubur. Binatang kenyal ini melayang layang dipermukaan air, dan terlihat dimana-mana. Dari di Sebuku, sampai di Legon cabe, dan bermain bersama anak-anak Sebesi di dermaga kecil itu. Ubur-ubur seperti mascot yang hadir disepanjang perjalanan kami.

Dan Brownies, adalah makanan pertama kali yang diberikan ketika perjalanan dimulai. Jatah saya, baru saya makan ketika di Legon Cabe hari berikutnya. Basi? Tentu tidak. Mungkin itu yang membuat teman-teman menamakan EO mereka Brownies. Manis dan disukai, serta tidak basi dalam jangka waktu lama.

Dan Krakatoa. Dia adalah misteri yang akan terus membuat saya merenung dan terkagum tentang kuasa Tuhan. Misteri yang tidak habis dibahas dibukunya Simon Winchaster atau teori yang mengemuka oleh Ueda Nakayama. Bencana yang diakibatkannya, mengilhami sineas-sineas asing dalam Film-film mereka. Pun dalam syair-syair melayu yang tercipta. Krakatoa adalah puisi. Dia adalah sajak yang mendengung dan menjadi indah dalam letusannya. Selesai. (bm07)

No comments:

Post a Comment