August 27, 2009

Lelaki dan Televisi bulan Ramadhan


Masih seputaran ramadhan, ada hal lain yang membuat kita seakan bisa meninggalkan ibadah demi sebuah kenikmatan.

Setan memang tidak pernah putus asa membeberkan kenikmatan dunia di depan mata kita. Hingga kadang kita lupa akan kaidah dan kepentingan apa dibalik missi mereka. Dogma yang sudah di kantongi oleh masyarakat adalah, dibelenggunya setan-setan pada masa Ramadhan. Benarkah? Lalu kenapa kejahatan dan tindakan yang "pada masa sebelum ramadhan" merupakan tindakan setan, bulan ini masih terjadi? Apakah, yang kemudian berperan bukan setan? Atau setan apa yang sanggup keluar dari belenggu Ramadhan?

Setan dalam arti harfiah, mungkin sulit didefinisi secara jelas. Yang kita terjemahkan adalah, setan itu seperti suster ngesot atau simanis jembatan ancol. Kuntilanak atau hantu jeruk purut. Itulah setan. Tidak pernah terdengar bahwa setan mengacu kepada mahluk hidup berprilaku bajingan, jahat dan sangat memuakkan.

Pada bulan puasa, televisi membentengi ruang siar mereka dengan sederet program yang kelihatannya sangat islami. Para pemandu acaranya berkerudung, sahur dan buka puasa ditemani, atau bahkan bisa sampai 24 jam nonstop dengan acara-acara yang menawan. Film, sinetron, musik bahkan kuis dan bagi-bagi hadiah uang, dengan hanya cukup menekan sederet angka nomor telephon dan jadilah kalian jutawan yang siap menghadapi lebaran dengan kantong tebal. Atau minimal sumringah.

Namun dibalik semuanya itu, ada hal yang kelewat kecil dan di acuhkan. Tayangan-tayangan ber"rating" tinggi justru diputar pada masa-masa "rawan". Masa-masa orang seharus nya beribadah, jam sholat ashar. Walah... Lalu, kemudian dengan pembenaran yang sangat permisif dia berkilah, cape pulang kerja. Padahal, syiar dari ramadhan salah satunya adalah taraweh.

Lihat saja para artis yang tampil dalam acara gosip-gossip tiap hari ditelevisi. Semuanya nampak bagai malaikat. Kerudung melingkar di kepala. Baju koko jadi trend sehari-hari. Ucapan para artis, jadi tidak jauh beda dengan ustadz yang setiap hari ceramah di tivi menjelang subuh tanpa ada yang menonton. Ini namanya penipuan publik. Penipuan karakter. Namun, setidaknya mereka mau berubah, meski hanya satu bulan. Apa kita juga berubah?

Game Online
Yang mengkhawatirkan juga salah satunya game online yang dengan mudah diakses oleh anak-anak dan remaja. Istilah remaja masjid makin lama-makin surut berganti dengan istilah remaja gaul atau anak online. Hampir bisa dipastikan, setiap warnet penyedia layanan game online selalu penuh. Lebih-lebih dibulan puasa. Mereka bisa berjam-jam menghabiskan waktu untuk berbuka puasa di depan layanan game. Mudah saja bagi para pemilik warung internet menawarkan paket-paket yang menggiurkan. Main 4 jam geratis satu jam. Dan lebih lagi, iming-iming hadiah yang menggiurkan jika menang. Ramadhan jadi bulan dengan iming-iming ganda. Pahala dan juga kepuasan game online.

Istilah ngabuburit kemudian menjadi populer. Kegiatan yang dahulu, berisi pengajian tadarus, pesantren kilat dan pelajaran agama sekarang berganti dengan musik, mall, dan game. Kata ngabuburit sendiri, bisa jadi bergeser jauh artinya. Segala jenis kegiatan untuk menunggu waktu berbuka puasa, sekarang disebut dengan istilah itu. Jangan salah, itu tradisi yang hanya di Indonesia. Bangga? Boleh lah..

Lebih jauh, esensi kebesaran Ramadhan menjadi hilang begitu saja. Dulu, kuduk rasanya merinding membayangkan kenikmatan yang tersedia pada masa bulan puasa. Pahala diobral murah meriah. Media tidak memombardir otak dengan tayangan penuh gossip dan mimpi. Ajaran kiayi yang disiarkan di televisi menjadi daya tarik, sehingga game dan nongkrong-nongkrong menjadi norak. Menjadi tidak populer.

Apakah kita berubah?(bmkr 8/09)
photo by http://garasigokil.files.wordpress.com/2009/03/gamer_01.jpg http://media.vivanews.com/thumbs/63842_anak_nonton_tv_thumb_300_225.jpg

No comments:

Post a Comment