August 28, 2008

Novel - RYan

bermula dari berita di tivi yang gencar sekali beredar
dan nama Ryan, nampaknya jadi begitu populer
makanya gw judulin Novel ini,
--------------------------------------------

Prolog
------









Ryan
Jika memang segala kesedihan itu dicipta Tuhan untuk kita
Kita akan membuat kebahagian kita sendiri, tanpa campur tangan-Nya













Aku

Aku masih terpana didepan layar komputer dimeja kerjaku. Entah, apakah ini adalah perasaan senang, terkejut atau perasaan apa. Deskripsi yang ada dalam kamus, rasanya tidak akan bisa menjelaskan semuanya. Bahkan WJS. Purwadarminta pun, aku rasa akan membuka kamusnya kemudian, jika aku menceritakan kaeadaan ku yang sekarang.

Udara seakan menjadi sangat dingin dikulitku. Badanku gemetar. Seperti ada gempa dengan kekuatan sangat besar melanda. Dinding-dinding seakan runtuh. Atmosphere yang sangat tidak menyenangkan berbaur dengan perasaan yang –seperti aku bilang tadi- tidak bisa diterjemahkan secara harpiah.

Dan email yang baru saja masuk dalam inbox ku ku baca berkali-kali. Ku lapal satu demi satu huruf-huruf nya, sehingga aku yakin betul dengan susunan kalimat-kalimat yang aku baca. Aku terjemahkan bahasa Inggris yang ada disana dengan penafsiran yang paling sederhana, sehingga aku yakin bahwa tidak ada kata yang tidak aku mengerti. Pun, jika ada kata yang aku tidak bisa terjemahkan, Webster’s New World Collage Dictionaries sudah ku pegang dalam genggaman tangan kananku. Aku tercekat. Otak ku menafsirkan keadaan ini dengan jelas sekali.

Namun anehnya, aku menikmatinya dengan sangat.

Jakarta Selatan, Juni 2008
Hembusan angin membelai lembut daunan yang ada dipekarangan rumah. Aku mematung menyaksikan perubahan alam, dari terang menjadi gelap. Langit membawa sebuah pesan singkat tentang kekuasaan yang maha dahsyat. Lembayung adalah sebuah maha karya tanpa tanding. Bahkan pelukis sekelas Picasso atau Affandi tak akan mampu melukis sebaik Dia.

Hati ku gundah. Aku memandang jemari tanganku. Lagi-lagi, rasanya lingkaran perak dijarimanisku terasa sangat berat. Rasanya jari ini, kebas. Kaku, Hingga aku tidak bisa lagi merasakan atau membedakan sesuatu dengan rabaan kulitku. Beberapa kali aku menggosok batu kecil pada lingkaran itu. Rasanya perasaan ini semakin aneh. Semakin terbebani.

Beberapa kali aku teringat nasehat seorang pandai dalam buku. Mencintai apa yang kita miliki lebih baik ketimbang memiliki apa yang kita cintai.

Ah…rasanya terjemahan otakku belum sampai untuk menafsirkan keadaan demikian. Nyatanya, aku masih saja berlari mengejar mimpiku, diatas pegunungan hijau yang aku lakukan tiap kali aku merasa dirundung sedih. Nyatanya aku masih masuk hutan, manakala himpitan dan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan normal, yah..kehidupan normal, diajukan kepadaku.

Menikah adalah pembenaran social saja, buatku. Ketika seseorang sudah dipandang mampu. Mampu dalam banyak hal. Keuangan, mampu dalam mengelola sebuah rumah tangga, dalam pandangan orang tuanya. Aku masih belum yakin, apakah menikah adalah keinginan seseorang, atau karena dorongan dari berbagai pihak. Toh secara umum, kita tidak akan menilai derajat orang dari, apakah dia sudah menikah kemudian derajatnya menjadi setinggi gunung. Menjdai maha raja dengan keadaan demikian.

Dalam pandanganku, menikah itu adalah pembenaran sosial. Orang yang ingin dipandang dalam kehidupan sehari-hari, sebagai mahluk yang punya kehidupan normal. Beranak-pinak, kemudian dianggap sukses, mengelola kehidupan. Perempuan dipanggil dengan nama suaminya, sehhingga lupa akan namanya sendiri. Bukankah itu tidak adil? Dalam pandangan kehidupan, seorang laki-laki, ingin dipandang sebagai mahluk perkasa, dengan mempunyai anak empat, atau lima. Meski batinnya sendiri menjerit karena ketiada berdayaan mengendalikan nafsunya terhadap istrinya.

Menikah adalah komoditi orang tua untuk menjual anak-anaknya. Perempuan yang sudah mekar, lulus SMA, adalah barang komoditi untuk diperdagangkan orang tua. Sang bapak akan memasang tariff tinggi kepada para jejaka yang akan meminang anaknya. Meskipun, kata cinta mati sudah jadi moto hidup sianak. Peranahkah tebayangkan, orang tua yang memandang anak lelaki, yang main kerumahnya sebagai sebuah sapi yang dapat diperah susunya hingga tetes terakhir.

Kurang lebih, begini kronologisnya, ketika seorang pria datang pertama kali kerumah seraong perampuan, ayah si gadis akan memasang muka masam. Perasaan tidak nyaman tentu saja sudah dirasa. Namun, besarnya cinta hanya yang membuat dia bertahan. Malam-malam berikutnya, rentetan pertanyaan dari sang bbapak, akan membahana, lebih kejam dari seorang polisi yang menanyai tersangka pencurian ayam disebuah komplek perumahan. Hanya saja , memang tidak ada main hantam atau yang sejenisnya.
“ Kamu kerja dimana? Bagian apa?”
“ Lulusan apa? Gaji mu berapa? Susah punya apa?”
“ Ada kendaraan?”

Dan pertanyaan-pertanyaan yang membuat telinga seakan mau pecah.

Anggaplah, si pria mampu melewati ujian pertama. Pada saat pernikahan keadaan bukan akan bertambah baik. Keinginan orang tua agar si pria membawa ini dan itu, mengadakan resepsi super meriah ditempat super lux, mengundang ribuan orang, kolega, orang sekampung, atau kalau perlu di umumkan ditelevisi, agar namanya menjadi harum. Setidaknya dalam pandangan dirinya sendiri.

Mengingat hal itu, aku seperti mau muntah. Perutku serasa diaduk-aduk. Bagaimana mungkin aku akan menikah dengan kondisi seperti ini. Ataukah aku memang tidak mencintai dia? Tiadk mencintai orang yang memberikan lingkaran perak ini kepadaku? Tidak mengakui ketulusannya yang setiap hari membangunkan ku untuk sekedar mengingatkan sarapan pagi, makan siang atau, sembahyang?

Hatiku gundah. Menerawang kegelapan mencari sekedar terang. Ada tiang listrik membekau diseberang jalan. Pohon rambutan yang tegak tanpa gerak sedikitpun. Aku mematung. Mengharapkan hembusan angin yang beberapa waktu tadi aku rasakan. Aku pejamkan mataku, menembus dimensi waktu untuk mencari kebenaran yang aku sembunyikan entah dimana. Atau disembunyikan dari aku, sehingga aku akan terus mencari hingga aku mulai bosan menafsirkan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang hakiki dan tidak bisa diubah.

Lampu-lampu jalanan menerangi temaram. Bus melaju dengan lambat. Suara kondektur memanggil-manggil tanpa henti. Entah sudah berapa ratus orang yang diatawari untuk naik kedalam busnya. Aku duduk dibangku hampir dibelakang. Disebalahku, Dia, duduk dengan santai.

“ Ah, benci nya hari ini. Kayaknya nilai ujian ku kali ini, nggak akan bisa sampai targetku,!” Dia mulai membuka pembicaraan.

Merogoh tas yang tadi dipangkunya dan mengeluarkan sebotol air mineral. Menawarkan nya kepadaku, tanpa bicara, dengan anggukan kepala disertai tatapan mata, dan aku jawab dengan mengangkat tanganku sebelah. Aku tersenyum, mudah-mudahan dia menafsirkan itu sebagai terima kasih, kamu saja, aku tidak haus.

“ Dosenku emang aneh. Kemarin dulu, dia bilang yang akan diujikan hari ini, adalah teori tentang ekonomi makro saja, nggak pake embel-embel yang lain. Eh..nyatanya, dia malah ngasih ujian yang lain. Aku nggak yakin. Apa lagi teman-teman yang lain, semuanya ngeluh. Dasar dosen nggak beres!” makinya .
“ Kamu bisa?” kataku pelan.
“ Kenapa?” tanyanya.
“ Kamu, bisa? “ ulangku.
“ Kenapa sih, kalo ngomong pelan mulu. Nggak denger nih,”
“ Kalo bisa bicara pelan, kenapa juga harus bicara keras?”
“ Iya…tapi ini dalam bus, suara kernet nya aja dah kayak bom atom Horoshima, gimana mungkin aku bisa denger suaramu yang kayak radio dua band batrenya mao habis gitu,”

Aku diam saja. Percuma saja menuruti percakapan ini. Itulah Dia, pacarku. Sekolah di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta, Ekonomi S1. Semester Enam. Hari itu, kami berjanji untuk bertemu disebuah Mal di sekitar kampusnya. Aku berencana meneraktinya makam malam. Meskipun dia pasti akan menolak, karena uang sakunya lebih banyak dari aku. Namun bentuk penghargaan untuk orang yang aku sayangi, akan selalu demikian adanya. Dia berkehudupan lebih baik dari aku, materi, pendidikan, kasih sayang orang tua dan semuanya.

Bus masih melaju, membelah malam kota Jakarta. Di jalan bebas hambatan, tiba-tiba dia menyentuh tanganku.
Aku menoleh. Sebaris senyuman merekah dengan indah.
“ Aku mau ngasih sesuatu. Tapi kamu nggak boleh nyela, yah!”
Aku diam saja. Mengiyakan dengan sorot mata dan anggukan kecil kepalaku.
“ Janji!?”
Mengangguk lagi.
“ Jangan cuma ngangguk-ngangguk aja dong. Ngomong..!”
“ Iya! Emang kamu mo ngasih apa? Foto monyet?” kataku jengkel.
“ Duh…sensi bener sih!” katanya cuek sambil membuka tas yang ada dipangkuannya. Tas itu…yah, tas itulah yang kemana-mana selalu menemaninya. Dia memakainya dalam keadaan seperti apapun. Tas kumal dan bau. Didalammnya ada kaos, celana panjang, celana dalam, gunting kuku, tissue, minyak wangi, body lotion, catatan kuliah, novel terbarunya, dan segala macam perlengkapan yang selalu ku bilang sebagai amunisi perang.

“ Ini… “ katanya seraya menunjukan sebuah bungkusan kecil. Menyodorkannya kepadaku perlahan.
“ Apa, ini?”
“ Buka aja!”
Tanganku bergerak menyambut bungkusan kecil itu. Sejurus kemudian, aku sudah memegangnya.

Aku menimang-nimang benda persegi empat kecil itu. Menerka-nerka apa isinya. Apakah ini hanya sebuah pemberian tanpa maksud, dari seorang pacar kepada kekasihnya. Atau ada maksud lain. Aku tidak dapat menyimpulkan apapun ketika itu. Semuanya hanya berupa pertanyaan-pertanyaan samar. Teramat redup untuk memperoleh jawab yang pasti.

“ Bukalah!” rajuknya.
Perlahan, aku membuka tutup mungilnya. Mataku terbelalak. Nafasku seolah tercekat. Aliran darah ke otak terhenti untuk beberapa detik. Cincin. Yah, sebuah cincin perak dengan manis meringkuk didalamnya. Dibalut sebuah kain berwarna merah marun. Kontras menyala. Aku memandangnya.
“ Untuk apa?’ tanyaku.
“ Pakai yah! Bukan untuk apa-apa, hanya sebagai tanda ikatan antara kita saja. Lucu-lucuan!” jelasnya berapi-api.
“ Apa sudah waktunya?” aku berkilah.
“ Sayang,” katanya manja, “ ini bukan cincin pertunangan. Ini cuma cincin untuk mengikat hati kita berdua saja. Antara kita. Tidak ada campur tangan orang tua. Tidak ada maksud apapun. Supaya kamu ingat terus sama aku, pacarmu. Dan satu lagi, ….. supaya kamu nggak cari pacar lain!” jelasnya, masih dengan semangat nya yang berapi-api.
“ Apa ini perlu? Ini berlebihan!”
“ Ya nggak lah..ini biasa aja! Pokoknya aku mau, cincin itu terus ada dijarimu. Jangan sampai hilang…!”
“ Tapi…?”
“ Aduh,… nggak pake tapi-tapi. Pake aja. Aku udah pake. Liat nih, ada nama kita dipahat disini.”
“ Iya, tapi untuk apa?”
“ Lucu-lucuan aja!”

Ah..malam itu adalah petaka terbesar dalam hidupku. Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, bahwa malam itu aku akan menerima sebuah benda, yang tenyata tidak hanya membelenggu jariku. Tapi ternyata juga membelenggu seluruh kehidupanku. Membatasi langkahku, membentengi segala gerak kakiku. Sekarang rasanya cincin itu tidak hanya membelenggu di jariku, kakiku, leherku, lidahku, semuanya terkunci.

Bukankah seharusnya aku bahagia. Karena sebuah pengakuan ketulusan sudah aku dapatkan dengan mudah dari sesorang. Kesungguhannya untuk menghabiskan waktu bersamaku selama-lamanya. Aku tidak perlu lagi berlari menerjang badai hanya untuk mencari seseorang yang aku suka. Tidak perlu lagi menyusuri dingin nya dinding-dinding es himalaya, untuk mencari kesejatian sebuah hubungan. Semuanya sudah sangat jelas terpampang didepanku. Tanpa ada sekat sedikitpun.

Bus kota itu meraung kembali. Membalah pekatnya malam Jakarta. Meninggalkan rentetan debu hitam dan asap tebal membuat polusi. Sehitam pemikiran yang saat itu ada di batok kepalaku. Semuanya nampak sangat tidak masuk akal. Terlalu cepat. Terlalu berlebihan.
Lucu-lucuan. Katanya yang sangat tidak bisa aku terima. Namun demikian, cincin itu telah melekat juga dijariku.

Aku membelai lingkaran perak dijariku. Rasanya dingin. Aku mengamati ulirnya, seperti waktu pertama kali aku melihat benda itu. Dikegelapan malam beranda depan, aku masih bisa melihat jelas ulirnya. Seperti sebuah gelombang. Yah, gelombang kehidupan yang akan diarungi jika kami nanti menikah.

Telepon genggam ku berbunyi. Aku merogohnya dari saku celana. Sebuah nama tertera disana. Aku tersenyum.
Klik.
“ Hallo!” jawabku,
“ Alaikumsalam,! Aku baik-baik, kamu?
“ ………………………”
……………….
………………


Ryan 1

Kenapa harus kamu? Ryan membentak hatinya. Memaki-maki dengan suranya yang keras. Dipandanginya cermin kamar mandi, dan melihat refleski gambaran dirinya terpantul disana. Wajah tirusnya. Rambut lurus hitamnya masih basah. Kulitnya yang kecoklatan karena bekerja dilapangan sebagai seorang perencana pembangunan sebuah kawasan pemukiman di luar Surabaya.

Dia sudah berada didaerah tak bernama-dalam bahsanya-hampir empat minggu. Sudah satu bulan lamanya. Dan entah untuk sampai kapan lagi.

Kenapa harus kamu? Tanyanya lagi. Bayangan itu melintas di kelopak mata Ryan. Wajah manis yang hanya dia lihat dari foto yang dikirim lewat email. Lewat surat elektronik mengandalkan kecanggihan teknologi mutakhir jaman ini. Jangankan bertemu dengan nya, kenal saja tidak. Menepon pun tidak. Ryan selalu berdalih, dia ada di negeri antah berantah tanpa sambungan telepon. Meskipun perkataannya itu bodoh. Sebab, orang akan dengan mudah curiga, dari mana dia bisa mengakses internet untuk membalas email. Tapi Ryan tidak peduli. Tidak hanya tidak mau memberikan harapan terlalu dalam, untuk seseorang yang belum dikenalnya begitu dekat.

” Bodoh sekali aku!” gerutunya,
“ Kenapa aku harus membalas email-emailnya? Kenapa aku harus menceritakan kehidupanku disini kepadanya? Kenapa aku harus percaya kepada orang yang tidak aku kenal sama sekali?”
Ryan meninju cermin itu. Membenturkan kekesalannya, hingga menimbulkan bunyi bum yang dalam.

Dukk..duk..dukk….
Kamar mandi diketuk dari luar.
“ Ryan!” panggil seseorang diluar,” kenapa kamu?”
Ryan kaget. Menyadari kalau pukulannya di kaca kamar mandi itu menimbulkan bunyi gaduh yang bisa di dengar diri luar.
“ Ah…anu, paman! “ Ryan tergagap. Mencari kata-kata yang tepat untuk memberi alas an kepada orang yang disebut paman, “ aku tidak apa-apa. Gayungnya jatuh!” jawabnya.
“ Oh….aku kira kamu yang jatuh! Ya sudah, cepatlah mandi. Sebentar lagi kita berangkat. Yang lain sudah menunggu,” jawab paman.
“ Ya, paman…sebentar lagi!”

Ryan menarik nafas lega. Lega karena paman tidak menanyakan apa-apa lagi. Bergegas dia mengambil handuk dan menyelesaikan mandinya.

Tidak terasa empat minggu sudah dia berada dalam kegelapan hutan ini. Sebuah daerah ditengah rimba yang anggun. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk gemerlapnya kota metropolitan. Sebagai seorang teknisi sebuah perusahaan penyedia jasa telekomunikasi, Ryan memang sering ditugaskan ke tempat-tempat terpencil. Entah untuk memperbaiki jaringan, atau untuk membuat jaringan baru. Dia berkewajiban memastikan sinyal-sinyal telepon bisa di akses dengan mudah. Dan bisa dijangkau.

Empat orang yang ditugaskan disana. Diantara lebatnya belantara dihutan Jawa Timur. Disebuah kampung yang hanya berpenduduk beberapa puluh jiwa. Dia, dan tiga orang lainnya,, harus tidur dengan menyewa sebuah rumah penduduk. Namun, karena kecanggihan teknologilah dia bisa berinteraksi dengan dunia luar. Hingga pada suatu hari, sebuah email masuk dalam inbox-nya.

Subject : Boleh Kenalan
To : ryan.hariadi@email.com
From : pelangi@dunia.com
Date : April, 14-2008

Dear Ryan,
Aku dapet email address mu dari salah seorang teman,
Boleh kita kenalan?
Aku!

Ryan memandnagi email isi email it uterus. Entahlah, siapa gerangan manusia ini? Namun tak urung, dia membalas juga email tersebut.

Subject : Re :Boleh Kenalan
To : pelangi@dunia.com
from : ryan.hariadi@email.com
Date : April, 14-2008

Dengan senang hati!
Ryan

Itu adalah awal keterlibatan Ryan dengan sosok misterius itu. Obrolan demi obrolan berkelanjutan dengan lancar. Hari demi-hari mereka menjadi demikian akrab. Dan Ryan, seperti menemukan kembali kehidupannya yang hilang. Betapa semala ini, dia menyembunyikan semua cerita-cerita tentang kehidupan ini dalam diary atau hanya dalam memori otaknya saja. Mereka bercanda, saling mengejek dalam tulisan-tulisan. Bahkan sama-sama mencurahkan keinginan mereka yang paling dalam.

“ Ngelamun, kamu, Ryan? Ada apa?”
Ryan terkejut, Dia tersenyum sendiri menyadari betapa bodohnya dia.
“ Ah..nggak paman! Aku baik-baik saja!” bantahnya.
“ Ayo berangkat. Yang lain sudah menunggu!”
“ Ya, paman!”

Empat orang itu masih bercengkerama dalam mobil membalah jalanan pedesaan yang rimbun. Namun tetap saja, Ryan tidak bisa menyembunykan perasaan nya hari itu. Bayangan itu tetap saja membelah sekujur tubuh Ryan, seperti sebuah pertanda. Ada perasaan yang sangat terpendam untuk sekedar berkata bahwa ia sedang merindukan seseorang jauh disana. Yang entah siapa dan mengapa dia merindukan nya pun, dia tidak tahu pasti. Namun belakangan ini, bayangan itu selalu saja menjelma dalam benak Ryan. Dalam setiap pikiran yang berkecamuk dikepalanya.

Malam, ketika kesempatannya membuka email, hatinya akan berdebar keras. Berharap email itu akan ada memblok hitam dalam in box nya. Dan ketika dia tidak menemukan nya, hatinya akan selalu resah, apakah dia disana baik-baik saja, hingga tidak ada email hari ini untuk dia. Ataukah dia amat sangat sibuknya, hingga tak ada waktu untuk hanya sekedar menulis email saja.

Paman, yang dari tadi nyetir, jadi memperhatikan perubaha yang terjadi pada sahabatnya itu. Memang, dari semenjak masuk dalam tim, Ryan adalah orang yang sangat tertutup, perfect, dan seringkali menyendiri. Entah itu dalam kamar, atau keluar entah kemana.

“ Kamu kenapa, Ryan? “ paman tiba-tiba bertanya, “ dari kemarin, aku perhatikan kamu gelisah sekali?”
Ryan tersentak. Mukanya merona merah. Dia membalas pertanyaan paman dengan gelengan kepala saja. Namun dalam hatinya dia menjawab lirih, aku merindukan dia, paman. Merindukan tutur katanya yang halus di email-email yang dia kirimkan, aku rindu kepada bulat matanya, dan rindu kepada senyumnya. Meski aku hanya bisa melihat dia dalam foto yang dia kirimkan waktu itu.

“ Pengen kawin kali paman?” ledek yang lain. Hingga pecahlah derai tawa di dalam mobil yang melaju semakin kedalam pelosok desa, meninggalkan rimbunan hutan jati yang masih sangat alami. Ryan tersenyum.
“ Betul itu, Ryan?” Tanya Paman lagi.
Ryan tidak menjawab. Hatinya perih. Benarkah itu yang dia inginkan. Benarkah pernikahan yang dia butuhkan saat ini?
“ Ah,..kalian mengada ada saja. Mau kawin dengan siapa? “ akhirnya Ryan membuka mulut. Hanya sekedar tidak ingin mengecewakan gurauan teman-temannya.
“ Loh! Bukannya kamu sedang dekat dengan anak si kepala kampung itu? Ngg…aku lupa siapa namanya…” jawab lelaki satu.
“ Suci!” timpal yang lain.
“ Iya, Suci! Dia tergila gila betul dengan kamu. Lagi pula ..” katanya lagi, berapi-api, “ apa yang kamu tunggu, Ryan. Pekerjaan, tampang! Semuanya mendukung. Gadis mana yang tidak akan jatuh hati kepada lelaki macam kamu. Sayang aku sudah beristri, kalau belum….”
“ Kalau belum memang kenapa?” Tanya paman tiba-tiba.
“ Ya…si Ryan ini, nggak akan dapat mungkin saingan dengan aku. Pasti dia akan merengek-rengek megharap cintaku!” katanya sembari tertawa.

Kontan, gelak tawa membahana dalam mobil itu.
“ Ah….sekarang saja, dia tergila-gila sama Ryan. Meskipun kamu bujangan, Suci nggak akan mungkin melirik kamu. Lihatlah, tampang mu macam kambing. Rambut keriting, mata belo, jenggot panjang…” tipal yang lain.
“ Buktinya, aku sudah beristri sekarang. Berarti, ke lelakian ku tidak diragukan, bukan?”
“ Iya lah…istimu itu, kamu pellet brangkali?”
“ Sialan! Nggak lah..cintanya tulus murni, seperti embun pagi yang jatuh didaun jambu…begitu kata Ebiet G. Ade,” …
“ begitu ya?” Ryan menimpali, “ jadi kepining punya cinta tulus murni itu, “ candanya.
“ Makanya, kamu cepat nikah.” Sahut paman. “ Sayang kan kalau kamu tiap hari harus maen sendiri. Nanti kalo nggak di salurkan secara benar, bisa-bisa jadi batu sperma mu!” ledeknya.

Yang lain tertawa.
“ Ah..paman bisa saja!” Ryan tertunduk malu.

Dan hari itu. Ryan kembali menemukan keceriaan diantara teman-temannya. Hari itu menyajikan sebuah cerita indah tersendiri buat dia.
Ah, seandainya kamu yang disana
Ikut merasakan kebahagiaan alam raya ini
Menikmati indahnya dedaunan hijau yang mulai tumbuh
Merekah
Basah diantara embun pagi
Yang sejuk
Namun tak apa
Aku akan menceritakan kepadamu kemudian
Ketika kita bertemu
Dan mengikat janji






Aku
Badanku rasanya bukan main lelah hari ini. Segudang pekerjaan yang membuat aku merasa seperti benar-benar kuli. Kuli dalam arti kata sebenarnya. Ingin rasanya aku cepat-cepat pulang. Merebahkan tubuhku di atas kasur, memejamkan mata sambil mencium aroma terapi yang saban kali aku bakar dalam wadah tembikar disamping tempat tidur. Merasakan otot-otot melemas perlahan, dan menjadi rileks. Mendengatkan alunan musik lembut yang mengalun menyegarkan perasaan, membuang stress yang dari tadi siang mengepung seluruh aura tubuh dengan awan hitam menggantung memenuhinya.

Seringkali perasaan membenamkan kita pada sebuah kubangan tanpa nama. Dalam dan sangat pekat. Berbau menusuk. Tempat dari segala macam kuman bersarang dengan manis. Seringkali kita dipaksa untuk memanjakan perasaan itu hingga kita sendiri menjadi babu, menjadi kacung atas diri kita sendiri. Demi materi kadang kita berani untuk membuat kita sendiri tidak menghargai dirikita. Alibi yang dibangun seperti sebuah tembok kasar yang menjadi penghalang antara realita, fatamorgana dan nafsu yang kerap kali membuat kita lupa, bahwa ada batasan-batasan untuk kita menjalani kehidupan ini sebagai manusia.

Kita kerap kali tidak pernah memanusiakan dirikita sendiri. Mengganggap diri ini adalah sebuah mesin hebat ciptaan Tuhan, yang tidak akan bermasalah meski tanpa ada jeda untuk sekedar merasakan udara bersih tanpa timbal.

Dan hari ini, aku menjadi sebatang arca yang dipasang pada sebuah pintu gerbang besar yang dengan setia menyambut tamu tanpa pernah seklipun mengeluh. Meski bibir rasanya sudah dower karena saban hari tersesnyum. Meski, aku tahu bahwa belum ada perusahaan asuransi yang mau menanggung untuk klaim bibir. Jika Ronaldo dan David Beckham mengasuransi kaki dan pantatnya, apakah ada perusahaan asuransi yang mau menanggung asuransi bibir para pekerja seperi aku.

Dan itulah, pekerjaan yang setiap hari aku geluti. Pekerjaan yang membuat aku bisa bebas bertemu orang-orang. Sisi posotif. BUkankah dalam seminar-seminar selalu dijabarkan tentang pentingnya membangun sisi positif dari sebuah pekerjaan. Cintai pekerjaan mu, maka semuanya akan menjadi mudah. Begitu tag line yang selalu digembar-gembor oleh para motivator-motivator yang dengan modalnya bicara, bisa meraup keuntungan dari orang-orang yang dengan mati-matian menyiapkan waktunya hanya untuk mendengarkan meraka bicara dengan sangat berpi-api.
“sodara-sodara. Cintailah pekerjaan anda, maka semuanya akan menjadi mudah. Tidak ada segala sesuatu yang didapat dengan kemudahan. Semuanya terserah kepada anda. Apakah anda akan menjadikannya sulit atau mudah…””

Mampus! Aku lupa sesuatu hari ini. Rumah sepi sekali. Tak ada orang. Bahkan kawan kostan pun belum ada yang pulang. Semua masih sibuk. Ini malam sabtu, pikirku. Mana mungkin yang lain akan cepat pulang. Biasanya meraka akan nonton atau hanya sekedar hang out di café-café sekitar kantor. Ya, ampun, bodohnya aku.

Aku masuk kamar dengan lemas. Tak ada yang bisa aku ajak bicara hari ini. Untunglah. Sisi baiknya, aku jadi bisa beristirahat dengan effisien. Hmm…ok…lihat sisi baiknya. Bahwa aku bisa beristirahat dengan maksimal.

Mulanya aku ingin menelepon pacarku yang super bawel. Entah, kenapa aku bisa suka dengan orang seperti itu. Terpaksakah? Tapi aku tidak pernah merasa ada keterpaksaan pada hubungan kami. Semuanya berjalan baik. Mengerti satu sama lain. Dan bertoleransi.

Ah…sudahlah! Yang penting hari ini aku bisa menikmati rencana istirahatku. Aku merebahkan badanku masih dengan pakaian yang tadi aku pakai untuk bekerja. Berusaha menenangkan pikiran yang kocar-kacir.

Dan ketenangan musik yang aku dengar dari pemutar CD yang aku pasang membuat aku terlelap. Melupakan hiruk pikuk Jakarta yang membuat aku terkurung dalam kubangan tanpa nama. Aku terlelap entah kemana. Menuju dunia antah berantah yang sangat indah. Tanpa ada beban. Tanpa ada pembatas yang menghalangi aku terbang. Aku melayang menembus segala prahara yang selama dua belas jam lebih mengikat nurani dan kebebasan ku.

Hingga sebuah ketukan dipintu membangunkan ku. Ketukan yang berkali-kali. Memanggil-manggil namaku. Aku berusaha keras menyadarkan pikiranku yang seketika harus berfikir keras, antara membuka pintu kamar atau harus melakukan yang lainnya.
Aku tergopoh-gopoh bangun, membuka pintu kamar.
“ Buset! Tidur apa mati lw? Gua teriak-teriak dari tadi juga,” tetangga kost ku ngomel-ngomel. Aku tersenyum.
“ Sorry. Gua capek banget. Ada apa?”
“ Lu mau nitip apa? Gua mo cari makan ke luar?” katanya menawari aku, “ Lu belum makan, toh?”
“ Ya belum sih,!” jawabku, “ tapi gua juga belum lapar.”
“ Aih…nggak usah muna. Ya udah, gua beliin kwetiaw ya. Makanan favorite lu. “ katanya sambil berlalu,” daahhh”
“ eh,…” aku hanya bisa berseru, tanpa dia memperdulikan. Aku melihat punggungnya menghilang dibalik tembok. Sahabat sebelah kamar ku memang sangat perhatian kepada siapapun. Tidak kepada ku saja. Namuan kepada semua penghuni kost disini.

Kadang, hutang budi hanya bisa dibawa mati. Dan hal itu menjadi sangat aku takutkan. Aku takut berhubungan dengan orang-orang dengan kebaikan yang sangat. Diluar batas kewajaran menurutku. Meski mereka tidak pernah meminta pamrih. Namun aku tidak bisa begitu saja menerima ini sebagai sebuah anugrah. Lebih baik aku mengerjakan segala sesuatu itu sendirian, ketimbang besok lusa harus ada yang merengek kepadaku untuk minta aku membayar budi nya yang sudah aku pakai. Membayangkan itu, aku menjadi merinding.

Jam sudah pukul delapan malam. Ah,..lama juga aku tidur. Hampir dua jam. Dan itu membuat badanku amat terasa segar.

Aku membuka komputer ku yang sedari tadi aku letakkan diatas meja. Membukanya saja. Tanpa ada hasrat untuk melakukan sesuatu. Namun entah kemapa aku kemudian membuka messanger. Memasukan ID ku dan password lalu menekan enter. Padahal pada saat itu aku tidak sama sekali tahu apa yang aku akan lakukan. Ingin bercakap dengan siapapun aku tidak tahu.
Ku perhatikan deretan orang-orang yang sedang online. Semuanya adalah teman-teman yang hampir setiap hari bertemu. Aku meninggalkan begitu saja kompterku. Kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan badan.

Kita berputar pada kehidupan yang itu-itu saja. Kejadian hari ini adalah pengulangan dari segala yang pernah terjadi. Baik ketika kita menyadari atau tidak. Semuanya adalah ulangan dari tiap menit, atau tiap detik kehidupan yang dulu.

Bulan akan selalu berubah dari sabit menjadi purnama. Matahari dari timur ke barat. Pohon-pohon akan menggugurkan daun-daunnya pada musim kering dan akan menjadi baru pada musim yang lain. Sehingga kehidupannya akan terus berjalan seperti sedia kala. Atau ular yang akan mengganti kulit pada saat tiba masanya, sehingga bisa meneruskan kehidupannya pada rupa yang lain.

Aku tidak pernah memikirkan aku dulu apa. Tidak juga hari ini. Aku membiarkan hidupku mengalir seperti apa adanya kehidupan. Mungkin aku mempercayai adanya reinkarnasi. Namun aku tidak pernah berfikir aku ini adalah seseorang selain aku pada kehidupan yang dulu. Semuanya aku rasa begitu-begitu saja. Mungkin juga dalam kehidupan dahulu aku adalah seekor monyet. Bukan membenarkan teori evolusinya Darwin, toh semuanya bisa saja terjadi, kan? Namun aku memandang kehidupan ini sebagai sebuah anugrah. Anugrah yang selalu diulang-ulang, untuk kemudian dijadikan sebagai sebuah lading amalan yang kelak akan kita bawa, entah pada dunia yang mana. Aku percaya mati adalah sebuah ketentuan yang akan terjadi. Dan aku juga percaya, bahwa ada sesuatu dalam badan ini, yang memberikan kita kehidupan. Bahkan ketika ketika sedang tidur sekalipun. Memunculkan perasaan yang berbagai-bagai, dan menjadikan kita sebagi sebuah benda dengan segala kemampuan yang mengagumkan.Penuh hasrat. Penuh gairah untuk menjadi yang paling dalam segala hal.

Begitu juga halnya dengan hati dan perasaan. Meski kita sudah menatanya sedemikian rupa, supaya bisa menjadi wajar dalam jalur lurus yang sudah digariskan Tuhan, namun, penentangan-penentangan itu selalu saja terjadi. Tidak pernah kita bisa betul-betul menata hati kita supaya menjadi hati yang bersih. Aku berani bertaruh, kecenderungan untuk melakukan kejahatan pernah juga terbesir dalam diri seorang pendeta sekalipun, namun. Mereka dengan sukses menyembunikan hal itu dalam lubang kuburan jiwa mereka paling dalem.

Apakah kita tidak boleh mencintai orang lain selain pacar dan kekasih kita. Bukankah perselingkuhan itu sekarang wajar terjadi. Meski aku tahu itu adalah alibi untuk sebagian orang. Apakah perselingkuhan harus selalu diartikan sebagai hubungan dengan intensitas dalam? Bukankah hati yang mencintai diam-diam juga adalah penipuan yang termasuk dalam katagori perselingkuhan. Jika ada detector untuk menyampaikan kebenaran masalah perselingkuhan, mengagumi orang lain, aku bertaruh bahwa empat dari lima orang adalah penganutnya.

Aku tidak pernah menyuruh hatiku untuk menyukai Ryan. Tidak pernah. Namun setiap hari, selalu saja aku menemukan pesan cinta dalam setiap tulisannya di email. Meski dia tak pernah menghubungi ku secara langsung. Entah karena apa. Aku tidak tahu. Dia begitu jauh. Namun juga terasa begitu dekat. Dia memberikan harapan-harapan tiap hari. Memberikan sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan dari orang yang paling aku sayang sekalipun.

Seperti malam ini, sebuah email masuk dalam inbox ku. Ryan lagi. Buru-buru aku membukanya.

To :: aku@email.com
Fm: ryan123@hotmail.com

Apa kabar sayang..
Empat hari sudah aku berada disini. Dalam hamparan sabana yang hijau di antara gunung-gunung yang menghijau. Diselimuti kabut tipis setiap kali aku membuka jendela rumah tempat aku menginap. Sabana ini begitu luas. Dan seperti tidak ada batas. Orang-orang menggembala ternak, dan aku berdiri setiap hari malam, memandang bulan yang hadir. Dan membayangkan kau ada disini, merasakan indahnya malam ini.
Aku ingin kau ada disini, sayangku.
Apakah kau juga??

Salam
Ryan.

Aku termenung. Bagaimana mungkin, ada orang yang begitu perhatian padaku. Meski kami belum bisa bertamu. Namun apakah aku hanya bermimpi saja? Dan berharap tidak akan pernah terbangun. Karena rasa ini sungguh nyaman. Aku tidak pernah merasakan ada sensasi ketika aku membaca surat-suratnya. Aku tadak pernah teringat apapun dalam kata-katanya. Namun halnya, berbeda katika aku membaca email dari nya. Aku berasa seperti, dia hanya ada beberapa blok saja dari tempatku. Tidak terbayangkan kalau sekarang dia berada jauh entah dimana. Dengan siapa, dan sedang menerjakan apa.

Ah, Ryan…mengapa harus kamu?
Mengapa harus orang dengan nama Ryan…?
Mengapa??

Entah setan dari mana, yang terus membisik dalam hatiku, sehingga membuat aku selalu teringat akan dia. Aku tidak bisa menyembunyikan lagi perasaan bahagiaku. Tidak bisa menyembunyikan keingintahuanku lebih jauh tantang dia. Mengapa dia selalu datang dalam email-email yang dikirimnya. Bahkan foto yang dia kirimkan kepadaku, berlatar sebuah gunung. Dia beriri dengan mantap menatapnya. Berdiri dengan sikap sangat mempesona. Di padang menghijau yang menjauh hingga entah sampai dimana ujungnya. Aku membayangkan betapa sangat kesepiannya kehidupan seorang Ryan. Jauh dari keramaian dan jauh pula dari orang-orang yang disayangi. Aku kemudian berfikir, apa dia merasakan itu. Sementara tidak pernah satu kalipun dia mengeluh dalam surat-suratnya. Semuanya nampak sangat wajar dimatanya. Semuanya nampak sangat dia nikmati. Bahkan ketika dia dengan sangat berapi-apinya menceritakan betapa dia bisa menemukan serumpun anggrek yang sangat bagus dalam belantara tak bertepi, dia menceritakan sepertia dia bercerita bahwa bunga itu hanya dia dapat dengan mampir di pinggir jalan, dimana banyak penjual tanaman mangkal, Tidak terasa kesan yang membuat dia susah.
Benarkah, engkau sebahagia itu dalam belantara disana, Ryan?


bersambung--

No comments:

Post a Comment